Namun kini ia sadar dan selalu berpikir positif jika ada nomor telepon siapa pun yang masuk pasti ia akan angkat. Setidaknya Himawan sudah dua kali kecele, gara-gara tabiat lamanya yang suka pilih-pilih mengangkat deringan HP.
Selama bekerja di perusahaan BUMN, Himawan mengaku banyak memiliki atasan mulai dari menteri sampai presiden. Kondisi ini lah yang membuat ia harus siap siaga ditelpon oleh siapa pun dan kapan pun. Sementara ketika ia bekerja di swasta atasannya hanya pemegang saham.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tantangan menjadi CEO di BUMN bosnya banyak, kadang-kadang kita tidak tahu, nomor telepon siapa yang masuk ke HP. Pernah ada kejadian lucu, dahulu pada saat ramainya rumah susun. Saya nggak percaya masa seorang wakil presiden mau menelepon dirut Perumnas. Waktu itu saya marah karena sedang rapat tak mau diganggu, telepon diberikan dari ajudan saya, ternyata itu betul Pak Jusuf Kalla," ujar pria kelahiran Solo, 48 tahun ini.
Mulai dari situlah ia mulai sadar dan selalu berpikir positif jika HP-nya berdering, ia akan mencoba mengangkatnya. Sebab ia tidak pernah tahu orang yang meneleponnya siapa.
"Saya selalu positif siapa pun nomor, saya berusaha angkat dulu. Kalau ternyata bukan, saya katakan sorry. Kan ada juga orang yang tak mau mengangkat, kalau saya berusaha selalu mengangkat, saya selalu berpikir positive thinking," katanya saat ditemui detikFinance dikantornya, Jakarta, Kamis (3/3/2011).
(hen/qom)











































