"Saya tak pernah punya simpanan uang di luar negeri. Investasi pun saya tak ada di luar negeri. Saya cuma punya satu rumah di Singapura karena untuk tempat tinggal anak saya yang sekolah di sana," jelas pengusaha yang disapa TW saat ditemui di Hotel Borobudur, Jakarta, Minggu (13/3/2011).
TW mengaku dirinya sangat berkomitmen untuk mengembangkan bisnisnya yang sifatnya sosial melalui yayasan miliknya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya juga memberdayakan hutan konservasi di ujung Sumatera, yakni Tambling. Luasnya 45 ribu hektare. Di sana tak ada lagi illegal logging dan illegal mining. Jadi harus dimulai dari sekarang untuk melestarikan lingkungan," tutur TW.
Dengan bisnis yang menggurita itu, Tomy mengaku waktunya sehari-hari hampir jarang sekali dia habiskan di kantor. "Saya bukan orang kantoran. Bukan rezeki saya pakai baju rapi dan berdasi. Tiap minggu saya menghabiskan banyak waktu di laut," jelasnya.
Saat ini, TW mengaku pembangunan JSS menjadi ambisinya, karena penting untuk membangkitkan roda ekonomi lebih cepat di Sumatera dan Jawa.
"Jembatan Selat Sunda ini harus dibangun. Saya ingin agar jembatan ini dipimpin oleh pengusaha nasional, karena menyangkut harga diri kita. Sampai saat ini saya belum mendapatkan hak penyelenggaraan pembangunan JSS. Saya ikhlas kalau tidak dapat," tukas TW.
(dnl/qom)











































