"Kita harus menghilangkan yang tidak perlu untuk subsidi, ya salah satunya Premium itu, masa ada yang naik Mercy yang harganya Rp 1 M, tapi bensinnya dibayar pemerintah?," ujar JK.
Hal itu disampaikan JK pada acara seminar pembahasan mengenai pelaksanaan program nasional konversi mitan ke elpiji 3Kg yang dilaksanakan di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Selasa (5/4/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Fungsi pemerintah itu kan menciptakan pembangunan. Namun anggaran pembangunan pada saat itu, mengikuti recovery pasca 1998, masihlah kecil. Kemudian dibebankan juga dengan anggaran subsidi, dimana ketika ada kenaikan ICP, maka anggaran subsidi akan terkoreksi. Kalau ini terjadi terus maka bisa kolaps kita, habis semuanya untuk bayar subsidi, utang, dan sebagainya," jelas JK.
"Maka itu kita ambil langkah pada waktu itu dengan menaikkan harga BBM," ucapnya,
Setelah harga ICP melonjak tersebut, harga BBM pun akhirnya dinaikkan. JK mengakui, saat itu terjadi kenaikan harga BBM hingga 120% yang merupakan kenaikan tertinggi sepanjang sejarah.
"Dulu APBN sekitar Rp 500-an triliun sedangkan Rp 250 triliunnya untuk subsidi. Jadi waktu itu kita naikkan harga minyak, kalau mahasiswa marah ya silahkan, daripada negara kolaps," kata JK.
JK menambahkan, jika sekarang harga minyak dunia sudah menyentuh US$ 120 per barel, maka dikaitkan dengan tanggungan pemerintah untuk subsidi akan dibutuhkan dana yang sangat besar.
"Kalau sekarang harga sampai US$ 120 per barel, sedangkan harga Premium masih Rp 4500 per liter dibeli oleh mobil, namun yang bayar kita semua, itu kan uang subsidi yang tidak perlu," jelasnya.
(nrs/qom)











































