Julukan 'tukang kritik' disampaikan sejumlah rekan dekat Sofjan Wanandi mulai dari mantan Wapres Jusuf Kalla hingga Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu. Meski menjadi tukang kritik, namun Sofjan Wanani tetap dikenal sebagai sahabat baik bagi Jusuf Kalla.
"Saya juga bingung 'Aktivis Sejati' itu apa untuk Sofjan. Yang saya tahu ia teman ngobrol, teman politik. Hanya satu, kita bukan temen bisnis karena kami berdua tak ada bisnis," kata JK dalam acara bedah buku 'Aktivis Sejati'.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut JK, seorang aktivis tidak harus miskin. Dan inilah yang ditunjukkan seorang Sofjan Wanandi. Sofjan juga tukang kritik, namun bukan berarti orang yang dicecarnya adalah musuh.
"Mengkritik tidak harus tidak sejalan dan aktivis tidak harus miskin. Selama saya kenal, 75% saya tidak setujunya dengan dia, dari pada setuju. Sofjan selalu kritik, tapi membangun. Dan ia tidak bisa pensiun, karena hatinya tidak tenang," kata JK.
"Yang ia kasih tahu adalah cara minum wine, dengan digoyang-goyang. Ia juga ingatannya kuat, dan aktivis kuliner. Dimana makanan enak, dia tahu," papar JK.
Mari Pangestu juga memberi hormat sosok Sofjan. Mari Elka bersama wartawan senior, Suryopratomo mengaku Sofjan memiliki kelengkapan. Character, Connection, dan Competent, plus Passion.
"Dulu saya memanggilnya om, sekarang pak Sofjan. Ia selalu kritik, pemerintah. Dan pada saatnya saya kena juga," tegas Mari.
"Ia memiliki network dan seluruh lapisan masyarakat ia sentuh," tuturnya.
Meski sudah terbit 1 buku yang berisi testimoni para sahabat dekatnya, namun Sofjan mengaku suatu saat ingin menulis sendiri perjalanan hidup, karir serta usahanya dalam membangun bangsa. Ia meminta waktu paling cepat 3 tahun untuk buku barunya nanti.
"Waktu itu pak Jacob (pimpinan Kompas) bilang saya untuk nulis, tapi karena waktu, saya tidak bisa konsentrasi nulis. Tiga tahun saya targetkan untuk buku otobiografi saja. Ini menjadi inside, kejadian-kejadian yang mungkin berguna untuk orang lain. Paling lama 5 tahun," tambahnya.
Buku perdana 'Sofjan Wanandi, Aktivis Sejati' sendiri, merupakan kumpulan pendapat orang-orang yang ada di sekeliling Sofjan. Sepak terjangnya dalam berbisnis, tukang kritik, hingga perannya sebagai kepala keluarga yang minim waktu untuk mendidik anak karena sibuknya ia membangun connection.
Β
Hampir seluruh orang yang menggoreskan pendapatan di buku 'Sofjan Wanandi, Aktivis Sejati' memuji keteguhan hati dan sikap tegas ketua Apindo ini. Tak sedikitpun keraguan dari kerabat, rekan kerja Sofjan bahwa ia akan pensiun, mengingat usianya yang menginjak 70 tahun.
Hanya satu orang yang menghendaki ia pensiun. Bukan orang lain, tapi anak bungsunya sendiri Paulus Wanandi. Dalam testimorinya, Paulus ingin sang ayah bisa mengurangi aktivitasnya di bisnis dan kalangan publik. Sofjan diminta untuk fokus dalam menjaga kesehatan dan menikmati sisa hidup.
"Satu-satunya dalam buku yang minta saya pensiun, anak saya yang paling kecil, yang tinggal di Australia," candanya.
Meski sadar Sofjan akan sulit 'pensiun' karena sang ayah sangat idealis dan pekerja keras, Paulus tetap berharap Sofjan rehat. "Ia dapat melakukan banyak hal yang baik untuk negaranya tanpa harus terlibat langsung. Keluarganya juga membutuhkan dia, begitu pula cucu-cucunya. Mereka mebutuhkan opa tercinta untuk selalu bersama mereka dan tetap sehat selama mungkin," kata si bungsu Paulus dalam testimonalnya.
Sofjan mengaku, buku ini ia dedikasikan untuk kawan-kawannya. Salah satu pesannya dengan terbitnya buku ini adalah, siapaun kita bisa berbuat lebih banyak untuk negara Indonesia tanpa peduli apakah ia masuk golongan mayoritas, atau minoritas. Itulah seorang Sofjan yang plural.
"Kita bisa berbuat untuk negara. Dan apa yang saya perbuat, belum selesai. Untuk pembangunan, untuk rakyat miskin, seperti doa saya setiap pagi untuk berbuat lebih baik," papar Sofjan.
(wep/qom)











































