Graziano sukses mengalahkan rival utamanya, mantan menteri luar negeri Spanyol Miguel Angel Moratinos, dengan voting 92 lawan 88. Calon dari Indonesia yakni Indroyono Soesilo juga sudah kalah di babak awal.
Sekretaris Menteri Perekonomian Kesejahteraan Rakyat yang menawarkan konsep 'BLT Pangan' untuk menjadi Dirjen FAO itu mundur setelah kalah suara di putaran pertama. Pada putaran pertama, wakil dari Brasil menduduki posisi teratas dengan 77 suara, disusul Spanyol dengan 72 suara, Indonesia 12 suara, Austria 10 suara, Irak 6 suara dan terakhir Iran 2 suara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemilihan Dirjen FAO memang menjadi sorotan menyusul kekhawatiran masalah kelaparan dan mahalnya harga pangan dunia. Usaha Graziano untuk menangani kelaparan di negaranya telah memenangkan voting dari berbagai dunia.
Graziano, profesor berusia 61 tahun telah menghabiskan karirnya untuk mengatasi kelaparan, meningkatkan kewaspadaan dan mendesak perubahan kebijakan sektor publik dan swasta di negaranya dan juga dunia. Sejak tahun 2006, ia merupakan asisten kepala dan perwakilan regional untuk Amerika Latin dan Karibia.
Di FAO, Graziano memainkan peran kuci untuk "Hunger-Free Latin America and the Caribbean Initiative" yang melihat kawasan tersebut sebagai wilayah pertama di dunia yang berkomitmen untuk menghabisi kelaparan pada tahun 2025.
Namun Graziano sangat berperan dalam mendesain dan mengimplementasikan "Zero Hunger" di Brasil, yang membantu mengangkat 24 juta rakyat dari kemiskinan ekstrem, dan itulah yang membuatnya terkenal di kancah internasional.
Graziano akan menggantikan Jacques Diouf yang sudah memegang jabatan tersebut selama 17 tahun. Diouf yang akan pensiun pada akhir tahun ini, selama in dikritik karena membuat FAO terlalu terpusat dan sangat tidak efieisn.
"Kita butuh FAO yang kuat dan efektif, sekarang melebihi kapan pun," ujar Graziano.
(qom/hen)











































