"Saya kan anggota KEN, jadi banyak tugas yang telah menunggu saya disana. Selain sebagai pengusaha, saya juga akan terus mengembangkan usaha," ungkap Erwin di Hotel Brawijaya, Jakarta, Selasa (13/9/2011) malam.
CEO Bosowa Corporation ini juga berjanji tidak masuk dunia politik, karena masih banyak hal yang bisa dilakukan, termasuk mengembangkan usahanya. "Jangan politis. Indonesia sendiri masih kekurangan pengusaha," katanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Erwin merupakan Ketua Umum HIPMI periode 2008-2011. Jabatan sebagai pimpinan tertinggi pengusaha muda tinggal menghitung hari, karena HIPMI akan menggelar Munas pada 17-18 Oktober mendatang di Makassar untuk memilih Ketua baru.
Erwin juga menjelaskan, ekonomi Indonesia terus akan melaju di tahun mendatang. Akan banyak muncul pengusaha-pengusaha baru yang siap berkompetisi.
Namun di sisi lain, pengusaha baru memerlukan perhatian dari pemerintah, khususnya pada akses kredit perbankan. Khususnya kredit usaha menengah, dengan nilai pinjaman diatas Rp 1 miliar.
"Indonesia butuh bukan pengusaha kecil, tapi pengusaha menengah dan atas. Kalau kredit mikro sudah sukses, kita butuh yang lebih besar. KUR yang saat ini sangat kecil. Jangan cuma Rp 500 juta. Tapi Rp 1, 5, 10 miliar itu lebih banyak," tegas Erwin.
Ia menilai, perbankan masih sangat hati-hati dalam menyalurkan kredit kepada wirausaha baru. Padahal potensi pertumbuhan usaha mereka sangat besar.
"Bank harus memudahkan askes kredit bagi pengusaha (kelas menengah), semudah KUR. Dengan demikian makan gap (jarak) antara pengusaha kecil-menengah-atas tidak terlalu jauh," imbuhnya.
Terkait kebijakan Bank Indonesia yang menerapkan devisa ekspor, Erwin selaku mahasiswa sangat mendukung hal tersebut. Dengan kewajibkan hasil perdagangan ekspor dan utang luar negeri masuk dalam sistem keuangan dalam negeri, likuiditas perbankan semakin tinggi.
Dengan demikian, perbankan tidak perlu khawatir akan aliran modal keluar di pasar saham akan melemahkan mata uang rupiah. Pada akhirnya, suku bunga perbankan bisa menurun dan menguntungkan semua pihak.
"Awalnya saya keberatan, namun ini adalah idealisme. Valas parkir di bank dalam negeri. Selama ini kebijakan perdagangan ekspor impor yang belum mendukung. Perdagangan komoditas harus menggunakan LC, dan tidak perlu khawatir. Komoditas kita diperlukan, pasti ada yang membeli. Selama ini kita terlalu cengeng saja," pungkas Erwin.
(wep/qom)











































