"Mungkin untuk segi penggunanaan komputer atau telepon, di level saya masih bisa mengikutilah ya. Namun menurut saya yang lebih sulit diikuti adalah social media atau Twitter. Karena itu membutuhkan kecepatan, dan kecepatannya sangat cepat. Susah bagi kita untuk merespons dengan cepat," kata Mari.
Hal itu disampaikannya usai Regional Workshop Studying on Dinamic of Women in (Information and Communications Technology (ICT) Sector in the ASEAN Member State di Hotel Sari Pan Pacific, Jl Thamrin, Jakarta, Rabu (21/9/2011).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bisa untuk menyebarkan informasi dan sosialisasi apa yang menurut kita penting buat masyarakat," imbuh Mari.
Meski tidak familiar dengan Twitter, namun Mari mengaku dirinya adalah sosok yang sudah cukup melek teknologi. "Saya pikir saya sudah relatif maju ya, namun masih belum semaju generasi yang 20-30 tahun di bawah saya, seperti kalian ini," ucapnya kepada wartawan.
Menurut pendapatnya, perempuan Indonesia sudah mulai melek teknologi, namun harus lebih ditingkatkan. Peningkatan ini layak dilakukan karena biaya mobile phone dan aksesnya sudah bertambah murah.
"Namun jika kita berbicara pada level paling mikro, itu belum terlalu affordable, karena ini kan tool atau alat. Jadi ini pada level paling mikro, belum digunakan sepenuhnya. Padahal contohnya untuk perdagangan, mereka bisa memanfaatkan ini untuk berjualan secara online," sambung perempuan yang namanya pernah masuk dalam 99 perempuan paling berpengaruh di Indonesia versi majalah Globe Asia bulan Oktober 2007 ini.
Untuk level makro, sambung Mari, harus diajarkan nilai-nilainya lebih dulu. Yakni bagaimana teknologi bia membantu mereka melakukan usaha. Hal ini bisa dimulai di tempat-tempat tertentu yang komunitasnya banyak. Langkahnya adalah dengan mengadakan komputer dan mengajarkan secara sederhana bagaimana fungsi dan kegunaannya secara sederhana.
"Khususnya saya yakin ICT ini bisa menjadi instrumen pemberdayaan untuk wanita yang luar biasa, karena kita bisa melakukan banyak hal dari rumah, baik itu menjual, membeli atau mendapatkan informasi," tambah Mari yang dibalut pakaian hitam ini.
Putri ekonom Indonesia J Panglaykim ini menambahkan, perempuan pengguna internet di Indonesia mirip dengan Malaysia dan Thailand, tapi masih di bawah Singapura. Dia menyebut, jika dilihat melalui mobile penetration rate, angka Indonesia cukup tinggi dan kemungkinan lebih tinggi daripada negara ASEAN lain.
"Tapi kalau kita lihat internet penetration dan broadband penetration, itu masih rendah. Dan itu padahal yang sebetulnya menjadi kunci untuk melakukan hubungan teknologi dengan baik. Nah ini yang bisa kita atasi ke depan, dalam ICT master plannya Kominfo itu sudah ada," tutur Mari.
Dia berharap ke depannya ekonomi bisa lebih berkembang dengan basis teknologi, terutama untuk UKM dengan basis kreatif. "Bayangkan jika kita bisa melakukan software development, animasi, desain, itu kan bisa menjadi keuntungan yang luar biasa bagi Indonesia," ucap alumnus Australian National University (ANU) itu.
(fay/qom)











































