Tak banyak orang yang kenal dengan miliuner asal Amerika Serikat (AS) ini, kecuali Anda benar-benar penyuka game, media sosial dan informasi teknologi (IT). Kini, sebenarnya ia bukan lagi miliuner seperti sedia kala. Apa alasannya?
Saat game-game besutan perusahaanya laku di pasaran, atau puncaknya sekitar awal tahun ini ketika saham Zynga (ZNGA) diperdagangkan di atas US$ 14,50 per lembar, saham milik Pincus sebanyak 94,5 juta lembar bernilai US$ 1,3 miliar (Rp 12 triliun).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nilai asetnya di saham Zynga sudah melorot lebih dari 80%. Tapi ia bukan pemegang rekor dalam hal kehilangan harta dalam waktu singkat. Rekor itu saat ini masih dipegang oleh Eike Batista, miliuner asal Brasil yang kehilangan US$ 6 miliar (Rp 54 triliun) hanya dalam waktu 48 jam saja.
Pada posisi kedua ada Sheldon Adelson yang hartanya merosot US$ 25 miliar (Rp 225 triliun) hanya dalam beberapa bulan menjelang krisis ekonomi global tahun 2008 lalu.
Dalam hal ini, Pincus masih beruntung. Ia punya kesempatan untuk menjual 16,5 sahamnya kepada publik saat harga sahamnya masih berada diperdagangkan double digit dan meraup dana sekitar US$ 200 juta (Rp 1,8 triliun).
Ia juga masih punya rumah mewah senilai US$ 16 juta di San Francisco dan villa di Aspen. Pincus juga punya beberapa saham di berbagai perusahaan, salah satunya Facebook.
Tetap saja, kehilangan harta besar-besaran di industri jejaring sosial ini merupakan lampu kuning bagi investor. Ambil contoh, Mark Zuckerberg yang kehilangan lebih dari US$ 9 miliar, atau koreksi saham Groupon yang cukup dalam.
Industri teknologi, terutama media sosial saat ini seperti supernova, menyala dengan hebat sebelum akhirnya habis terbakar.
(ang/hen)











































