7 CEO yang 'Ditendang' dari Perusahaan Raksasa

7 CEO yang 'Ditendang' dari Perusahaan Raksasa

Angga Aliya ZRF - detikFinance
Kamis, 18 Apr 2013 08:42 WIB
7 CEO yang Ditendang dari Perusahaan Raksasa
Jakarta - Jadi Chief Executive Officer (CEO) perusahaan raksasa tidaklah mudah, penuh tekanan dan tantangan. Makanya, tak sedikit pula CEO yang akhirnya terpaksa dilengserkan karena dinilai tidak mampu memimpin perusahaan.

Beban dan tanggung jawab yang tinggi selalu dipikul oleh CEO. Salah sedikit, langsung jadi orang yang paling diperhatikan oleh para pemegang saham dan komisaris.

Seperti beberapa CEO ini, seperti dikutip dari DailyFinance, Kamis (18/4/2013), mereka dinilai tidak mampu dan akhirnya 'ditendang' dari perusahaan yang mereka pimpin.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ingin tahu siapa saja mereka? Klik tautan di bawah ini untuk memulai.

Ron Johnson

Ron Johnson hanya menjabat sebagai CEO J.C. Penney dalam waktu yang singkat. Padahal, mantan direktur Apple Inc ini sangat dipuja-puja sebagai pemilik otak encer di dunia usaha ketika pertama kali diangkat sebagai CEO J.C. Penney.

Langka radikal yang ia terapkan membuatnya dijauhi oleh para pelanggan, akhirnya omzet perusahaan retail ini pun anjlok. Ia hanya bertahan sebagai CEO selama 17 bulan saja.

Carol Bartz

Raksasa internet Yahoo! mengangkat Bartz si veteran di dunia teknologi pada 2009 dengan tujuan mendapatkan pemimpin dengan visi yang masih segar dan lebih jelas. Bartz mengejutkan manajemen Yahoo dengan program penghematan anggaran, termasuk di dalamnya PHK karyawan, demi menggenjot pendapatan perusahaan.

Sayang, langkahnya itu gagal karena pendapatan perusahaan tidak naik sesuai target, apalagi dengan kurangnya pemasukan iklan. Namun demikian, Bartz menolak disalahkan dan memberi contoh bahwa Steve Jobs saja butuh bertahun-tahun untuk memulihkan Apple.

Akan tetapi, setelah 2,5 tahun Bartz menjabat sebagai CEO, pemegang saham tidak puas dan memecat Bartz. Komisaris Yahoo menyampaikan perihal pengunduran diri itu melalui telepon, berdasarkan email yang disebarkan Bartz melalui iPad miliknya.

Leo Apotheker

Saat HP mengangkat Apotheker sebagai CEO pada November 2010, langkah tersebut dinilai sebagai aksi agresif HP memasuki bisnis perangkat lunak. Tapi banyak analis tidak suka akan langkah HP tersebut, apalagi Apotheker baru saja dipecat dari pekerjaan sebelumnya sebagai CEO di perusahaan pembuat Software SAP AG cabang Jerman gara-gara ketidakpuasan karyawan akan kinerjanya.

Apotheker seharusnya bisa membawa HP maju secara perlahan tapi pasti, sayang strategi miliknya malah membuat perusahaan kurang percaya diri. Ia disalahkan sebagai biang keladi merosotnya laba dan pendapatan perusahaan.

Tidak berhenti sampai di situ, ia melebarkan sayap HP dengan mengakuisisi perusahaan software asal Inggris bernama Autonomy Corp senilai US$ 10 miliar. Lagi-lagi ia membuat kesalahan. Nilai akuisisinya dinilai terlalu mahal dan malah memberatkan perusahaan.

Setelah 11 bulan menjabat CEO HP, Apotheker dipaksa lengser dan posisinya digantikan oleh mantan CEO eBay Meg Whitman.

Charles Conaway

Conaway pernah dinobatkan sebagai CEO favorit Wall Street nomor 2 saat memimpin CVS dan menjadikannya waralaba toko obat terbesar di AS. Ketika ia ditunjuk Kmart sebagai CEO di 2000 lalu, Conaway harus bisa memperbaiki perusahaan yang punya seribu masalah, termasuk teknologi yang ketinggalan zaman serta banyak cabangnya yang tutup.

Banyak analis menilai Conaway salah strategi, contohnya saat ia mencoba berkompetisi dengan harga produk di Wal-Mart, bukannya fokus kepada produk-produk yang lebih ekslusif. Pada awal 2002, Kmart akhirnya mendaftarkan diri untuk pailit di pengadilan, Conaway pun mengundurkan diri tak lama setelah itu

Setelah pailit, Kmart pun dibeli oleh miliuner Edward Lampert. Tak berapa lama, Lampert membantu Kmart mengakuisi Sears, Roebuck & Co., dan menggabungkan keduanya sebagai perusahaan baru bernama Sears Holding Corp.

Bob Nardelli

Nardelli awalnya dianggap sebagai orang asing yang bisa mengembalikan kejayaan industri otomotif AS melalui perusahaan investasi Cerberus Capital Management, yang menunjuknya sebagai CEO Chrysler pada Agustus 2007.

Akan tetapi, Nardelli, yang menghabiskan sepanjang karirnya sebagai direksi di GE dan Home Depot, tidak punya pengalaman sama sekali di bisnis yang lebih rumit seperti otomotif, dan hal ini memang terbukti.

Bukannya memperbanyak lini produk Chrysler, Nardelli malah fokus memangkas jumlah karyawan dan menutup pabrik. Langkah ini membuatnya dijauhi para distributor dan pelanggan.

Ketika krisis finansial 2008 datang, Chrysler terkena masalah besar. Nardelli mencoba mencari pinjaman demi menyelamatkan perusahaan tetapi sudah terlambat.

Chrysler mendaftarkan perlindungan kebangkrutan ke pengadilan pada April 2009. Ketika akhirnya dinyatakan lolos dari pailit pada Juni tahun yang sama, Nardelli dipecat dan digantikan oleh mantan CEO Fiat Sergio Marchionne.

Craig Herkert

Perusahaan retail raksasa AS, Supervalu, menunjuk Herkert sebagai CEO pada 2009 dengan harapan mantan direktur Wal-Mart itu bisa mengembalikan masa jaya perusahaan. Saat itu, Supervalu sedang mengalami berbagai tantangan, termasuk maraknya kompetitor.

Pada masa kepemimpinannya, Herkert menempatkan Supervalu sebagai supermarket skala kecil yang berada di lingkungan perumahan dengan fokus ke produk harga murah. Sayangnya strategi ini kurang berhasil dan membuat omzet perusahaan tetap datar.

Tahun lalu, perusahaan menunda pembagian dividen dan membuka diri untuk dibeli oleh investor. Beberapa pekan setelah pengumuman itu, Herkert pun dipecat.

Kevin Rollins

Rollins bergabung dengan Dell pada 1996 dan sempat memegang beberapa jabatan penting sebelum akhirnya ditunjuk sebagai CEO pada 2004. Ia juga memegang beberapa jabatan sekaligus selain CEO, yaitu komisaris utama dan CEO Dell Americas.

Perusahaannya saat itu sedang mencoba bertahan di tengah gempuran komputer pribadi (personal computer/PC) harga murah yang membuat omzet perusahaan susah tumbuh. Pada 2006, Dell dilibas oleh Hewlett-Packard Co. dari posisi sebagai penjual PC nomor satu di industri PC.

Belum lagi, Dell juga sempat menarik lebih dari 4 juta notebook yang baterainya berpotensi meledak. Baterai tersebut merupaka bikinan Sony Corp. Pada Agutus 2006, laporan keuangan Dell juga dipertanyakan setelah melakukan kesalahan akunting.

Rollins akhirnya mengundurkan diri awal 2007 dan posisinya digantikan sang pendiri Michael Dell.
Halaman 2 dari 8
(ang/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads