Mantan Direktur Utama PLN ini menceritakan latar belakangnya yang berasal dari keluarga miskin. Bahkan saat SD hingga SMP, dia tak menggunakan alas kaki saat sekolah, yang jaraknya 6 km.
"Saya punya sepatu pertama kelas 2 SMA. Itupun sepatu bekas dan berlubang. Saya nggak berani pakai. Saya berani saat Senin di upacara bedera. Saat SD, SMP saya sekolah nggak pakai sandal, pulang pergi 6 km. Saya rasanya jauh lebih miskin nggak pernah mengeluh," ucap Dahlan di depan ribuan mahasiswa Universitas Pattimura, Ambon, Kamis (26/9/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya rasanya jauh lebih miskin nggak pernah mengeluah atau saya nggak punya ibu. Nggak punya universitas terbaik untuk mengeluh. Mungkin saya jauh lebih moskin dari anda. Miskin zaman dulu beda dengan sekarang. Kenapa saya nggak mengeluh dan menderita, karena temen saya semua miskin," jelasnya.
Selain berbagai masa remajanya, pemilik group media Jawa Pos ini mengaku saat masa kuliah adalah tukang demo. Bahkan karena saking asiknya berdemo dan sibuk di organisasi kampus, pria kelahiran Magetan harus drop out (DO) pada semester III di IAIN Walisongo, Cabang Samarinda.
"Saya pernah kuliah FH tapi 1,5 tahun terus DO. Saya belum pilih jurusan perdata atau pidana. Sekarang mahasiswa sulit DO karena ada SKS. Saya keaysikan demo nggak pernah kuliah. Terus ujian pasti lulus ujian. Saya keasikan demo, urus mahasiswa kampus terus DO," jelasnya.
(hen/dnl)










































