Indroyono mulai menjabat di FAO pada awal tahun 2012. Saat itu, Indroyono tidak berhasil menjadi Direktur Jenderal FAO karena kalah bersaing dengan Jose Graziano Da Silva.
"Saya orang Indonesia pertama yang mendapat jabatan tersebut," ungkap Indroyono saat berbincang di sebuah restoran, di Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Senin (23/12/2013)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"60 anak buah saya adalah dari 12 negara," sebutnya.
Indroyono berkantor di Roma, Italia namun saat menjalankan tugasnya, ia sering berkeliling dunia. Terutama untuk negara-negara yang masih bermasalah dengan ketersediaan pangan.
"Saya banyak kegiatan di Asia Pasifik. Sebagai pejabat dunia, saya nggak boleh diam di Roma, saya harus keliling, tapi nggak ke New York juga. Saya harus ke Sudan, Zimbabwe dan negara lainnya," papar Indroyono.
Ia mengaku punya beban dengan jabatan tersebut karena harus menunjukkan kehebatan Indonesia di kancah Internasional. Indroyono sangat beruntung memiliki beberapa ahli dari dalam negeri yang mewujudkan programnya.
"Setahun saya belajar cukup banyak di sana. Dan saat saya masuk tentunya harus ada yang menonjol. Itu karena teman-teman dari Indonesia. Program saya bisa diwujudkan," paparnya.
Indroyono menilai harusnya, banyak ahli dari Indonesia yang ikut bertarung di FAO. Setiap tahunnya Indonesia ikut menyumbangkan dana ke FAO.
"Harusnya banyak orang kita bisa masuk di sana. Karena jatah kita. FAO itu berdasarkan iuran setiap negara. Harusnya ada 8 orang untuk menjadi tenaga profesional ke atas," terangnya.
(mkj/hen)










































