Cerita Emirsyah Satar: Di Danamon Digaji Rp 500 Juta, di Garuda Jadi Rp 80 Juta

Cerita Emirsyah Satar: Di Danamon Digaji Rp 500 Juta, di Garuda Jadi Rp 80 Juta

- detikFinance
Kamis, 04 Sep 2014 10:37 WIB
Cerita Emirsyah Satar: Di Danamon Digaji Rp 500 Juta, di Garuda Jadi Rp 80 Juta
Foto: Emirsyah Satar
Jakarta - Sejak 2005 lalu, Emirsyah Satar telah menjabat sebagai Direktur Utama PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA), sebelum menjadi Dirut, Emir menjabat sebagai Direktur Keuangan di maskapai BUMN tersebut. Gaji Emir saat bekerja di Garuda turun drastis ketimbang gajinya saat menjadi Wakil Direktur Utama Bank Danamon.

Mantan Menteri BUMN Sugiharto, yang sekarang menjabat sebagai Komisaris Utama Pertamina bercerita soal kisahnya saat merayu Emir pindah dari Bank Danamon untuk membenahi keuangan Garuda yang saat itu punya banyak utang.

Sugiharto yang menjadi Menteri BUMN pada 2004-2007 bercerita, kondisi Garuda yang punya banyak utang, harus diselamatkan. Karena bila tidak, bank-bank BUMN ikut terkena imbasnya. Sebab Garuda juga banyak berutang kepada bank-bank BUMN.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Pemecahan permasalahan pertama adalah mencari seorang pakar keuangan. Karena yang saat itu dibutuhkan Garuda bukan pilot. Jadi saya rayu Pak Emir waktu itu beliau bekerja sebagai Wadirut Bank Danamon dengan pendapatan Rp 500 juta per bulan. Wakil direktur utama Bank Danamon, lalu saya tawarkan dengan gaji Garuda hanya mampu membayar Rp 80 juta per bulan," ujar Sugiharto dalam acara peluncuran buku 'Transformasi Garuda: From One Dollar to Billion Dollars Company' di Hotel Dharmawangsa, Jakarta, Kamis (4/9/2014).

Sugiharto merayu Emir dengan pendekatan bahwa mereka satu almamater, yaitu lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI).

"Jadi saya ajak beliau bahwa apa yang sudah diinvestasikan negara untuk kita, saatnya kita kembalikan kepada negara dalam bentuk pengabdian. Setelah berhasil merayu Pak Emir, pekerjaan saya selanjutnya adalah meyakinkan anggota dewan (DPR). Saya yakinkan bahwa Emir adalah orang yang tepat untuk memimpin Garuda. Yang bisa menyelamatkan Garuda," jelas Sugiharto.

Menurut Sugiharto, pilihannya menunjuk Emir sebagai Dirut Garuda tidak salah. Emir bisa melewati setiap rapat di DPR dengan sabar, dan akhirnya DPR menyetujui suntikan uang negara untuk Garuda. Emir, ujar Sugiharto, telah melalui masa terberat menyelamatkan Garuda.

Pada 2007-2008, adalah masa terberat Garuda untuk bisa bertahan di tengah masalah utang yang melilit. Fase ini bisa dilalui Emir, lalu pada 2009-2010, Emir bisa menjadikan Garuda berbalik bangkit, hingga akhirnya di 2011 Garuda terus tumbuh bisnisnya hingga sekarang.

(dnl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads