Keluar dari IBM, Pria Ini Jadi Satu-satunya Peternak Siput di Austria

Keluar dari IBM, Pria Ini Jadi Satu-satunya Peternak Siput di Austria

- detikFinance
Minggu, 05 Okt 2014 17:21 WIB
Keluar dari IBM, Pria Ini Jadi Satu-satunya Peternak Siput di Austria
Panen siput di peternakan Gugumuck (foto: BBC)
Jakarta - Andreas Gugumuck sepertinya tidak perlu risau mengenai penghidupannya. Pria yang tinggal di Wina ini adalah satu-satunya peternak siput di Austria, bisnisnya tanpa pesaing.

Di peternakannya, Gugumuck bisa menghasilkan 30.000 ekor siput setiap tahunnya. Siput-siput ini adalah bahan makanan manusia, misalnya untuk menu escargot yang terkenal di Prancis.

Harga daging siput, yang di Indonesia sering disebut hama, ternyata cukup mahal yaitu bisa mencapai 80 euro (Rp 1,2 juta) per kg. Dalam setahun, peternakan Gugumuck mampu menghasilkan 1,5 ton daging siput. Tentu ini bisnis yang sangat menarik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain untuk konsumsi dalam negeri, siput ini juga diekspor ke sejumlah negara Eropa sampai Amerika Serikat. Tak hanya dagingnya, telur dan hati siput juga jadi salah satu menu favorit di Eropa.

Gugumuck, 40 tahun, memang dibesarkan di peternakan keluarga. Namun awalnya dia tidak berminat meneruskan bisnis ayahnya. Gugumuck muda lebih memilih kuliah di jurusan komputer, dan sempat bekerja di perusahaan raksasa IBM pada tahun 2000.

Karir Gugumuck di IBM sebenarnya cukup cemerlang. Dia bahkan pernah dipercaya sebagai manajer di sebuah proyek.

"Namun saat itu saya berpikir, ada sesuatu yang hilang. Saya tidak memproduksi apapun, hanya konsep-konsep," katanya seperti dikutip dari kantor berita BBC, Minggu (5/10/2014).

Dia pun kemudian membaca artikel tentang siput yang menjadi bahan makanan kelas atas. Gugumuck langsung melakukan riset kecil-kecilan tentang hewan tak bertulang belakang ini.

"Saya menemukan buku masakan yang sangat menarik. Buku ini menuliskan tentang sejarah menu makanan siput di Austria, terutama di Wina," sebutnya.

Mungkin selama ini kita mengenal Prancis dengan escargot-nya adalah konsumen siput terbesar. Namun Gugumuck mendapati bahwa di Abad Pertengahan, Wina adalah pusat dari menu olahan siput.

Setelah membaca soal teknik pengembangbiakan siput, Gugumuck mulai meneruskan peternakan keluarga pada 2008. Sebagai awalan, dia membeli 20.000 ekor siput coklat Eropa. Ini adalah siput yang umumnya hidup di wilayah Eropa bagian utara.

Pada 2010, Gugumuck merasa penghasilannya dari beternak siput sudah cukup. Dia pun berhenti dari IBM dan konsentrasi ke pekerjaan barunya sebagai peternak siput.

Peternakan Gugumuck juga mengembangkan produk telur siput. Harganya lebih gila lagi, 150 euro atau lebih dari Rp 2 juta per 50 gram!

Menurut Gugumuck, telur siput disukai karena lebih renyah dibandingkan telur ikan (kaviar) dan punya rasa yang lebih kuat. Telur siput ini sudah merambah pasar ekspor seperti Jerman dan AS.

Tak hanya itu, Gugumuck juga memperoleh penghasilan tambahan dari membuka tur ke peternakannya. Pengunjung bisa berkeliling peternakan, dan kemudian menikmati hidangan siput. Ada juga toko oleh-oleh, di mana pengunjung bisa membeli pernak-pernak yang berhubungan dengan siput.

(hds/hds)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads