Demikian dikutip dari siaran tertulis yang diterima Jumat (19/12/2014). Aksa Mahmud, yang kini berusia 69 tahun, dinilai berhasil membangun dan meletakkan fondasi serta terus-menerus mengembangkan bisinis Bosowa yang kuat sehingga dapat berkembang sampai menjadi sebuah konglomerasi bisnis seperti sekarang ini. Dimulai dari usaha perdagangan berupa bisinis pemasok hingga meraksasa dengan grup-grup bisnis semen, otomotif, jasa keuangan, properti, energi, logistik, pendidikan, infrastruktur, dan media.
Setelah turun dari panggung politik, Aksa yang merupakan Wakil Ketua MPR periode 2004-2009 kini lebih banyak mengurus pendidikan dan aktivitas sosial. Aksa menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan bisnis kepada putra-putrinya. Sejak tahun 2006, kepemimpinan bisnis Bosowa diserahkan kepada putra sulungnya Erwin Aksa selaku Chief Executive Officer, yang didukung saudara-saudaranya Sadikin Aksa, Melinda Aksa, Athirah Aksa, dan Subhan Aksa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perjuangan mendirikan dan membangun usaha tidaklah ringan. Aksa keluar masuk bank di Makassar untuk mendapatkan kredit, namun tidak ada yang mau memberi. Aksa tidak putus asa, sampai suatu saat Kepala Bank BNI di Kota Pare Pare mau memberinya modal kerja Rp 5.000.000.
Kerja serabutan dilakoni dari memasok kertas sampai alat pengatur suhu udara ruangan (AC). Lalu berhasil mendapatkan hak sebagai dealer mobil Datsun. Akan tetapi tidak lama, agen pemegang merek Datsun di Jakarta yaitu Indokaya tutup. Usaha Aksa pun ikut tutup, dan banting setir lagi.
Pada 1980 Aksa mendapatkan hak eksklusif sebagai dealer Mitsubishi di wilayah Indonesia Timur, setelah mendirikan PT Bosowa Berlian Motor. Inilah salah satu lompatan Bosowa, kemudian merambah jasa konstruksi dan agroindustri.
Lompatan berikutnya dari perdagangan ke industrialisasi manufaktur dengan mendirikan pabrik Semen Bosowa Maros. Sempat oleng dihantam krisis 1998, Aksa tidak menyerah walau banyak orang menyarankan agar dia menyerahkan perusahannya ke Badan Penyehatan Perbankan Nasional, lalu tidur nyenyak.
"Saya belum mau menyerah," katanya kepada salah seorang bankir senior waktu itu.
Lolos dari hempasan gelombang krisis, bisnis Bosowa di tangan generasi kedua yang didukung tenaga profesional, kian melaju pasca tranformasi bisnis yang mengusung Bosowa Excellence
Lahir di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan, 16 Juli 1945, Aksa Mahmud menjalani dan merasakan pahitnya kehidupan di pedesaan yang serba terbatas, berjalan kaki beberapa kilometer ke sekolah.
Di sela waktu sekolah atau saat liburan, Aksa bukannya bersantai dan bermain sebagaimana layaknya anak-anak desa lainnya. Remaja kreatif ini justru memanfaatkan waktu luang untuk berdagang. Ia membawa hasil bumi dari desanya untuk dijual ke Pare Pare.
Sebaliknya dari kota, ia membeli kurma dan es balok untuk dijual saat bulan puasa. "Kurma itu saya tusuk seperti sate. Setiap satu tusuk terdiri dari 5 buah kurma," kenangnya.
Bakat dagang dan minat serta tekad untuk menjadi lebih baik secara terus menerus, menempa Aksa Makmud. Bermental baja, pantang menyerah, banyak akal, pandai bergaul, dan bersyukur, adalah prinsip yang ditanamkan juga pada anak-anaknya dan seluruh karyawan Bosowa.
(hds/hds)











































