Dari Tukang Kompor, Kamadjaya Jadi Bos Gula

Dari Tukang Kompor, Kamadjaya Jadi Bos Gula

- detikFinance
Minggu, 21 Des 2014 18:22 WIB
Dari Tukang Kompor, Kamadjaya Jadi Bos Gula
Jakarta -

Presiden Direktur PT Gendhis Multi Manis (GMM) Kamadjaya salah satu pengusaha gula yang mencoba berpikir di luar kebiasaan. ‎Melalui keberaniannya membangun Pabrik Gula (PG) Blora di tengah hutan jati, justru kini pabriknya satu-satunya pabrik gula yang berdiri setelah 30 tahun tak ada pabrik baru di Indonesia.

Pria kelahiran 46 tahun silam ini berasal dari Cirebon dan Purwokerto. Kama panggilan akrab Kamadjaya sudah bertahun-tahun menggeluti bisnis gula, namun siapa sangka perjalanan awal bisnisnya dimulai dari pengalaman berjualan kue dan membuat kompor di Cirebon.

"Saya lulusan Parahyangan, jurusan teknik Sipil, kerja pertama secara formal sebagai supplier bor minyak. Tapi sejak SD saya sudah jual kue dan buat kompor. Baru setahun bekerja, saya dapat bea siswa di Prasetiya Mulya Business School S-2 ketemu sama Ahok, satu kelas," kata Kama di PG Blora, Kabupaten Blora, Sabtu (20/12/2014).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

‎Di kampus Prasetiya Mulya, Kama banyak belajar soal keuangan. Setelah itu, ia sempat bekerja di perusahaan yang memproduksi piring dan mangkok, di sini lah jalan hidupnya mulai menemukan arah karena mulai menemukan mitra bisnisnya di bisnis gula.

"Saya ketemu dengan Pak Hendrik yang sekarang jadi mitra saya. Selama 4 tahun kerja, saya keluar," kenangnya.

‎Petualangan bekerja di perusahaan orang ia coba akhiri dengan mencoba berbisnis buah-buahan selama setahun. Namun pada 1997 usahanya bangkrut.

Kama mencoba bangkit, ia menjajal ke habitatnya sebagai orang gajian bekerja di perusahaan keramik Royal Doulton. Waktu itu, ia mendapat posisi yang strategis dengan gaji Rp 150 juta per bulan, namun kursi empuknya di Royal Doulton berakhir karena ia harus keluar perusahaan asing tersebut.

"Saya berantem dengan bule, saya memang tukang berantem," katanya tertawa.

Setelah itu, ia kembali memutuskan untuk bekerja di perusahaan multinasional yaitu Coca Cola pada 1999. Ia dipercaya mengelola gudang distribusi Coca Cola, di sini lah Kama mulai mengenal soal dunia gula, semenjak 2000 ia dipercaya mengelola pasokan gula rafinasi ke perusahaannya.

"Selama 1 tahun mengelola rafinasi, saya keluar," katanya.

Pasca keluar dari Coca Cola, rasa ketertarikannya terhadap dunia gula makin tinggi. Ia bertekad ingin menjadi pengusaha gula, yang dimulainya dengan berkeliling mencari pabrik-pabrik gula yang butuh direvitalisasi.

Pada 2002, Kama menemukan pabrik Gula Cepiring di bawah PT Industri Gula Nusantara (IGN) yang sempat tak beroperasi bertahun-tahun, dengan pola kerjasama dengan pemegang saham, ia mencoba membangkitkan pabrik tersebut. Pada 2009, ia sempat untung besar karena mendapat alokasi impor gula rafinasi‎. Keuntungannya ini lah yang selanjutnya mengubah jalan hidupnya lagi.

Singkat cerita, Kama akhirnya memutuskan keluar dari IGN dan mencoba membangun pabrik gula baru. Melalui jaringannya selama ini, ia akhirnya mencoba keberuntungan mendirikan pabrik gula pada akhir 2010, setelah menunggu 4 tahun akhirnya Juni 2014 pabrik gula yang diberi nama PG Blora tersebut resmi berdiri di bawah Bendera PT Gendhis Multi Manis (GMM). Ia pun menjadi Presiden Direktur GMM.

Kini, setelah ‎PG Blora beroperasi 5 bulan, ia mengambil keputusan besar dengan berencana mengundurkan diri sebagai Presiden Direktur di GMM mulai awal Januari 2015. Selanjutnya, kursinya akan diisi oleh generasi baru yaitu direktur keuangan PT GMM yang kebetulan adalah seorang wanita.

"Alasan resign saya mau fokus ke petani. Mau edukasi petani saja," katanya.

(hen/rrd)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads