Di internal, Jonan menata jenjang karir. Tugas diberikan dengan jelas dan detil. Tidak mampu bekerja atau mencapai target, siap-siap digeser.
Jonan dinilai tidak pandang bulu, bahkan orang dekat atau kenalannya di perusahaan juga jadi korbannya. Hal ini diceritakan oleh Corporate Secretary KAI Sugeng Priyono saat berbincang dengan detikFinance di Stasiun Juanda Jakarta, Senin (23/3/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sugeng, sebelum menjadi Corsec di KAI, mengawali karir sebagai penjaga palang pintu perlintasan kereta pada tahun 1981. Menurutnya, pengembangan karir di KAI relatif semrawut alias tidak jelas sebelum Jonan masuk memimpin perseroan.
Kedekatan dengan pimpinan dan senioritas mendominasi alur karir KAI. Pekerja berprestasi tetapi berusia muda memiliki kesempatan tipis menduduki jabatan atau posisi strategis.
"Dulu masih KKN. Kalau tidak kenal sama pimpinan tidak naik jabatan," ungkap Sugeng.
Jonan masuk dengan mengubah sistem karir dan kesejahteraan. Karyawan diberi tugas dan pencapaian yang jelas. Jika bekerja secara baik dan dinilai mampu, maka akan dipromosikan. Sebaliknya, karyawan akan digeser bila dinilai tidak kompeten. Awalnya, sistem kerja tersebut menimbulkan kegaduhan.
"Kepemimpinan yang dibangun oleh Pak Jonan di KAI, jabatan itu adalah amanah. Tidak kita bisa kita nyaman disitu. Bisa-bisa besok dimutasi. Kalau dulu ribut, baru 3 bulan langsung mutasi. Karena nggak biasa saja," jelasnya.
Meskipun Jonan telah menjadi Menteri Perhubungan, sistem karir berupa reward dan punishment di KAI tetap berjalan dengan baik. Kini, masyarakat bisa dengan mudah menemukan pejabat berusia muda di KAI.
"Sekarang sudah biasa anak muda duduki jabatan tertentu. Dulu ribut kalau ada struktur pangkat dan usia lebih muda tapi jabatan lebih tinggi," sebutnya.
(feb/hds)










































