Menangis di Hari Kartini, Menteri Susi Ingat Sang Bunda

Menangis di Hari Kartini, Menteri Susi Ingat Sang Bunda

- detikFinance
Selasa, 21 Apr 2015 14:50 WIB
Menangis di Hari Kartini, Menteri Susi Ingat Sang Bunda
Jakarta - Dalam pidato soal kedaulatan di depan ratusan Pegawai Negeri Sipil (PNS), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti sempat meneteskan air mata. Susi beberapa kali terlihat tidak mampu melanjutkan pidato karena menahan tangis saat mengingat perjalanan sejarah hidupnya termasuk saat mengenang sang bunda.

"Hari ini adalah hari spesial bagi saya, karena ibu saya lahir tepat pada hari ini," kata Susi di Gedung Mina Bahari III, Jalan Medan Merdeka Timur, Jakarta, Selasa (21/04/2015).

Susi lantas melanjutkan cerita perjalanan hidup ibunda tercinta yang harus keluar dari lingkungan keluarga di Pangandaran, Jawa Barat, hingga menetap di Sukabumi, Jawa Barat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya banyak belajar dari ibu saya. Lari meninggalkan keluarganya di Pangandaran ke Sukabumi dan masuk kesusteran karena tidak mau dinikahkan di usia 12 tahun," kata Susi sambil meneteskan air mata.

Dengan tarikan nafas cukup dalam, Susi lantas kembali bercerita saat sang ibunda tercinta hidup sendiri di Sukabumi, Jawa Barat. Baginya sosok sang ibunda cukup kuat dan mandiri, bisa hidup mandiri tanpa dihidupi oleh keluarganya.

"Dia hidup di gereja dengan suster dan akhirnya sekolah di Solo. Beliau berani menentukan masa depan saya harus hari ini, untuk pergi dari keluarga yang mampu menghidupi tanpa ide mau kemana. Akhirnya ending up di sekolah kesusteran padahal hidup di keluarga muslim," kenangan Susi sambil beberapa kali mengelap air mata dengan tisu.

Hingga pada akhirnya, Susi bercerita sang ibunda tercinta bergabung dengan Palang Merah Indonesia di Solo, Jawa Tengah. "Akhirnya tinggal di sana 2 tahun mengikuti Palang Merah Indonesia," kata Susi kembali sambil menangis.

Dari perjalanan hidup sang ibunda tercinta, ada pesan moral yang bisa jadi pegangan Susi. Ia akan belajar lebih banyak agar mampu menjadi sosok yang diinginkan oleh sang ibunda tercinta.

"Kita berkarya hanya akan bisa mendapatkan penghargaan luar biasa bila kebebasan kita tidak terambil dan terbelenggu. Mohon maaf," jawab Susi mata merah berair-mata.

(wij/hen)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads