Menteri ESDM Ingin Seperti Beethoven dan Mahakarya 'Fur Elise'

Menteri ESDM Ingin Seperti Beethoven dan Mahakarya 'Fur Elise'

Dana Aditiasari - detikFinance
Jumat, 22 Mei 2015 15:25 WIB
Menteri ESDM Ingin Seperti Beethoven dan Mahakarya Fur Elise
Jakarta - Sudirman Said memang tidak memiliki latar belakang bidang minyak dan gas (migas), namun ditunjuk oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) sebagai Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Meski banyak yang meragukan, namun Sudirman punya prinsip sendiri.

Mantan Direktur Utama PT Pindad (Persero) ini bertekad menjadi industri migas Indonesia berubah, dan memiliki tata kelola yang bagus.

Dia mengumpamakan komposer legendaris dunia Ludwig van Beethoven, yang mampu menciptakan lagu klasik 'Fur Elise'. Lagu tersebut dikenal berbagai generasi hingga saat ini. Padahal Beethoven merupakan tuna rungu, atau tidak bisa mendengar.

"Itu artinya apa, artinya bahwa ketika kita punya passion punya ketulusan, tidak ada kata lain selain passion dan ketulusan yang bisa membuat orang yang tidak bisa mendengar, tetapi bisa menciptakan lagu dengan gubahan yang begitu luar biasa," papar Sudirman, dalam acara konferensi Indonesia Petroleum Association (IPA) di JCC, Senayan, Jakarta, Jumat (22/5/2015).

"Mungkin saja saya tidak kenal dengan dunia migas. Tapi tentu saya tertantang untuk membuat industri ini tertata dengan baik," ungkapnya.

Sudirman berujar, 'Fur Elise' adalah cara Beethoven menuangkan passion dan ketulusannya pada musik.

"(Terobosan) ini adalah cara saya menuangkan passion dan ketulusan saya untuk mengubah dan memperbaiki industri migas tanah air. Mudah-mudahan hasilnya bisa awet. Tentu hasilnya tidak sehebat lagu tadi (Fur Elise) tapi paling tidak itu bisa itu upaya terbaik‎," tegas dia.

Pada kesempatan itu, Sudirman mengungkapkan soal tujuannya membentuk sejumlah tim. Seperti Tim Reformasi Tata Kelola Migas yang dipimpin Faisal Basri dan sekarang sudah berakhir. Kemudian membentuk Komite Eksplorasi Nasional yang dipimpin Andang Bachtiar.

"Sebagai pemicu, saya gunakan dalam tanda kutip Pak Andang (Andang Bachtiar Ketua Komite Eksplorasi Nasional) dan Pak Faisal Basri (Mantan Ketua Tim Reformasi Tata Kelola Minyak dan Gas Bumi) untuk mengungkapkan poin-poin yang tidak mungkin dilontarkan pemerintah," kata Sudirman.

Komite Eksplorasi Nasional adalah tim bentukan pemerintah untuk melakukan investigasi atau pemeriksaan, dan penelitian tentang tata kelola migas di sektor hulu ‎dan menyuarakan berbagai kelemahan tata kelola yang harus diperbaiki oleh pemerintah.

Sementara, Tim Reformasi Tata Kelola Migas adalah lembaga bentukan pemerintah untuk melakukan penelitian dan investigasi tentang tata kelola migas di sektor hilir, dan menyuarakan berbagai kelemahan dan kekurangan yang harus diperbaiki pemerintah serta berbagai temuannya.‎

Menurut Sudirman, seb‎agai menteri, dirinya terbatas untuk mengungkap hal-hal buruk yang justru terjadi di tubuh pemerintahan, seperti di kementerian yang dipimpinnya, meskipun dia mengetahui hal tersebut.

"Misalnya Pak Andang mengatakan bahwa sudah cukup lama politik ini mendominasi suasana migas, sehingga sulit berkembang.‎ Kalau saya sendiri yang bicara begitu, itu akan kurang sopan," kata dia.

Pembentukan tim-tim itu, diakui Sudirman sebagai salah satu terobosan yang dilakukannya untuk membongkar berbagai kelemahan yang selama ini menghambat perkembangan industri minyak dan gas secara wajar di tanah air.

Langkah ini juga, lanjut dia, merupakan satu pembuktian bagaimana seorang dari luar lingkungan migas bisa memimpin industri migas dengan berbagai terobosan yang selama ini tidak dilakukan pemimpin terdahulu karena berasal dari lingkungan migas itu sendiri.‎

(Wahyu Daniel/Suhendra)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads