Li Hejun, pemilik produsen panel surya Hanergy Thin Film Solar, sudah memperkirakan harga saham perusahaan akan anjlok cukup dalam. Pasalnya, saham Hanergy sudah meroket 625% hanya dalam setahun.
Seperti dikutip CNN, Senin (25/5/2015), dalam laporan yang diterima otoritas Bursa Saham Hong Kong, orang terkaya di Negeri Tirai Bambu itu menambah posisi short selling-nya menjadi 796 juta lembar pada 18 Mei 2015.
Ia juga memborong 26,4 juta lembar saham di harga rata-rata HK$ 7,28 (Rp 12.300) per lembar pada perdagangan hari yang sama.
Short selling alias jual kosong, adalah suatu cara yang digunakan dalam penjualan saham ketika investor atau trader meminjam dana (on margin) untuk menjual saham (yang belum dimiliki) dengan harga tinggi, dengan harapan akan membeli kembali dan mengembalikan pinjaman saham ke pialangnya pada saat saham turun.
Dengan cara seperti ini, berarti Li berharap bisa meraup keuntungan dari penurunan harga saham Hanergy yang ternyata benar-benar terjadi tak lama kemudian.
Langkah yang dilakukan Li ini makin menimbulkan tanda tanya di kepala investor, terutama tentang apa yang terjadi di perusahaan pembuat panel surya terbesar di China tersebut.
Pada perdagangan Rabu pekan lalu, saham Hanergy anjlok 47% hanya dalam satu jam sebelum perdagangannya dihentikan karena auto reject (penghentian otomatis kala harga saham turun drastis).
Li yang memegang 80% saham Hanergy menderita kehilangan harta hingga US% 15 miliar. Pada hari yang sama, Hanergy sedang menggelar rapat umum pemegang saham tahunan (RUPST).
Li yang berperan sebagai pendiri sekaligus pemegang mayoritas saham Hanergy, memutuskan tidak hadir dan malah menghadiri pameran energi terbarukan di Beijing yang diselenggarakan oleh perusahaan yang sama.
Sebelum anjlok, saham Hanergy sudah meroket 625% hanya dalam setahun. Harganya makin meninggalkan harga saham First Solar, produsen panel surya asal AS.
Pada posisi tertingginya April lalu, kapitalisasi pasar Hanergy mencapai US$ 45 miliar (Rp 585 triliun). Melonjaknya harta Li ini membuat Jack Ma si pendiri Alibaba lengser dari predikat orang terkaya China.
Lonjakan saham Hanergy itu sudah menimbulkan kecurigaan. Banyak investor mengira Hanergy melakukan manipulasi laporan keuangan karena 60% omzetnya berasal dari perusahaan induk, Hanergy Holding Group yang bermarkas di Beijing. Li merupakan komisaris di perusahaan ini.
Saat ini perdagangan saham Hanergy masih dihentikan oleh otoritas Bursa Saham Hong Kong. Hanergy belum mengeluarkan pernyataan resmi atas persoalan ini.
(Angga Aliya/Wahyu Daniel)











































