Follow detikFinance
Selasa 07 Nov 2017, 17:15 WIB

Kisah Boy Thohir Beli Adaro, dari Tambang Jadi Perusahaan Energi

Wahyu Daniel - detikFinance
Kisah Boy Thohir Beli Adaro, dari Tambang Jadi Perusahaan Energi Foto: Istimewa
Jakarta - Sekitar 12 tahun lalu, Garibaldi 'Boy' Thohir, bersama 3 orang pengusaha Indonesia, mengakuisisi PT Adaro Energy Tbk (ADRO), perusahaan tambang penghasil batu bara terbesar kedua di Indonesia yang awalnya dimiliki investor Australia.

Perusahaan tambang batu bara ini sekarang berkembang menjadi beragam sektor. Di 2008 dan 2009, pria 52 tahun ini juga membeli perusahaan logistik untuk membantu bisnis batu baranya.

Seiring berjalannya waktu, Boy berhasil membuat Adaro lebih besar dibanding saat masih dipegang orang-orang asing. Produksi batu bara Adaro yang pada 2005 masih 24 juta ton sekarang sudah melompat hingga 52 juta ton alias lebih dari 2 kali lipat.

Bisnis Boy lewat Adaro makin berkembang di 2010 dengan mendirikan PT Adaro Power, sebagai kendaraan strategis untuk ikut aktif dalam pengembangan proyek pembangkit listrik di Indonesia.

"Kami berkeinginan untuk menjadi pemain utama di sektor listrik Indonesia, dan menjaga bisnis batu bara tetap berjalan lewat suplai ke pembangkit listrik," kata Boy dalam acara Nikkei Global Management Forum di Tokyo, (7/11/2017).


Hadir dalam acara ini sejumlah CEO perusahaan dari Jepang dan internasional.

Saat ini, Adaro ikut ambil bagian dalam program pembangunan pembangkit listrik 35.000 megawatt (MW) yang dilakukan Presiden Joko Widodo (Jokowi).

"Ini (proyek 35.000 MW) menjadi proyek listrik terbesar dalam sejarah 71 tahun Indonesia merdeka," imbuh Boy.

Kisah Boy Thohir Beli Adaro, dari Tambang Jadi Perusahaan EnergiFoto: Istimewa

Menurut Forbes, Boy merupakan orang terjaya nomor 32 di Indonesia, dengan harta kekayaan senilai US$ 1,1 miliar atau sekitar Rp 14,8 triliun.

Lewat bisnis energinya, Adaro saat ini memiliki Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU berkapasitas 60 MW di Kalimantan Selatan, dan tengah membangun dua proyek PLTU berkapasitas 200 MW dan 2.000 MW di dalam negeri yang ditargetkan beroperasi pada 2019 dan 2020.

Perjalanan bisnis Adaro diceritakan Boy tidak selalu mulus. Inovasi baru harus terus dilakukan untuk bisa bertahan di bisnis tersebut, apalagi pesaing makin bertambah. Ke depan, ujar Boy, Adaro siap untuk berinvestasi ke energi alternatif di luar batu bara, seperti membangun pembangkit listrik berbahan bakar gas atau energi terbarukan seperti matahari dan biomass.

"Sekarang kami telah bertransformasi menjadi produsen energi terintegrasi di Indonesia, yang menciptakan nilai berkelanjutan dari batu bara. Kami berkomitmen untuk selalu membawa inovasi dan berperan dalam perkembangan energi di negara kami," papar pria kelahiran 1 Mei 1965 ini.

Dalam forum tersebut, Boy juga bercerita soal cara Adaro menghadapi penurunan harga batu bara di 2016 lalu. Adaro melakukan efisiensi biaya yang ketat sehingga bisa bertahan di tengah penurunan harga.

Sekarang setelah 25 tahun, bisnis Adaro berkembang dengan delapan pilar utama: Adaro Mining, Adaro Services, Adaro Logistics, Adaro Power, Adaro Land, Adaro Water, Adaro Capital, dan Adaro Foundation. (wdl/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed