Follow detikFinance
Jumat 10 Nov 2017, 13:25 WIB

Ini Dia Esther Gayatri, Perempuan Pertama yang Menerbangkan N219

Hendra Kusuma - detikFinance
Ini Dia Esther Gayatri, Perempuan Pertama yang Menerbangkan N219 Foto: Hendra Kusuma/detikFinance
Jakarta - Setelah menyandang nama Nurtanio yang diberikan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Pesawat N219 harus menjalani penerbangan hingga 300 jam. Ini sebagai syarat meraih type certificate (TC) dari Direktorat Kelaikan Udara dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKUPP) Kementerian Perhubungan (Kemenhub).

Sebagai informasi, N219 Nurtanio merupakan produk hasil kerja sama PT Dirgantara Indonesia (PTDI) dengan Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN). Di balik kemudi N219, ada seorang perempuan yang berandil besar dalam proses pengujian tersebut

Ia juga pilot perempuan pertama yang menerbangkan pesawat N219, siapakah dia? Dia adalah Capt. Esther Gayatri, yang bersama Capt. Adi Budi, akan terus menguji terbang N219 Nurtanio hingga mendapat TC dari Kemenhub.

Esther Gayatri, pilot penguji N219Esther Gayatri, pilot penguji N219 Foto: Hendra Kusuma/detikFinance

"Iya saya pilot yang pertama terbang, sama Captain Adi Budi," kata Esther di Base Ops Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (10/11/2017).

Esther mengatakan, penerbangan N219 yang disaksikan Presiden Jokowi merupakan penerbangan ke-8.

"Total jam yang sudah diterbangi mungkin 8,5 jam, masih sangat dini," jelas dia.

"Karena minimum 350 jam, mungkin semoga bisa 1 tahunan, karena banyak hal, mudah-mudahan minum one year," lanjut Esther.

Esther Gayatri, pilot penguji N219Esther Gayatri, pilot penguji N219 Foto: Hendra Kusuma/detikFinance

Dia menceritakan, pada penerbangan ke-8 ini hanya dilakukan secara singkat, sekaligus melakukan pendataan teknis mulai dari pencatatan kecepatan, ketinggian dan lainnya.

"Tadi kita melakukan short flight tentunya setelah pemberian nama pesawat ini, tadi di sirkuit saja sedikit putar sekali ke kanan dan kita minta izin untuk mendarat.

Ke depan, dia berharap, pesawat N219 Nurtanio ini bisa menjadi armada yang mampu melayani penerbangan perintis di Indonesia. Sebab, kapasitas pesawat ini hanya untuk 19 orang dengan berat angkut 7.030 kilogram saat take off, dan 6.940 kg pada saat mendarat.

"Tentunya kita mengambil market yang 19 penumpang, dan landing di jarak yang pendek, saya melihat pesawat cukup pendek, dan masih melakukan data, dan iya perintis," tukas dia. (hns/hns)
Komentar ...
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed