Follow detikFinance
Rabu, 28 Feb 2018 15:21 WIB

Susi: Saya Baru Makan Nasi Kotak Setelah Jadi Menteri

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Hendra Kusuma Foto: Hendra Kusuma
Jakarta - Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dikenal menteri yang tegas dalam menghadapi para pencuri ikan. Salah satu kebijakan yang kerap menjadi sorotan ialah penenggelaman kapal.

Berkaitan dengan hal tersebut, Susi memiliki pengalaman unik yakni pertama kali makan nasi kotak saat menjadi menteri. Hal itu disampaikan Susi dalam acara bedah buku Laut Masa Depan Bangsa.

Cerita berawal saat Susi ingin memberantas maling ikan di Indonesia. Susi mengatakan, pencurian ikan sendiri marak sejak tahun 2001 karena dibukanya izin penangkapan ikan untuk kapal asing. Izin penangkapan itu diduplikasi sehingga pencurian ikan marak di Indonesia.

"Mereka sudah izin resmi, izinya resminya di-copy (diperbanyak), izin 1, kapal 10," kata dia Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Jakarta, Selasa (28/2/2018).

Susi pun mencari akal supaya pencurian ikan bisa dihentikan. Ternyata, kata Susi, ada payung hukum di mana kapal pencuri ikan bisa langsung ditenggelamkan.

Melihat kondisi itu, Susi langsung melapor ke Presiden Joko Widodo (Jokowi). Serangkaian rapat pun digelar untuk memuluskan langkah Susi. Rapat tersebut dihadiri oleh para penegak hukum. Tak jarang, kata Susi, rapat yang berlangsung pun sampai malam. Kondisi itu membuatnya membuat lapar dan kadang sulit mencari makan karena hujan.

Di situlah Susi 'terpaksa' makan nasi kotak untuk pertama kalinya.

"Kadang-kadang jam 11 malam, hujan deras mau pulang lapar, mau ke mana sudah terlalu malam. Tapi biasanya disiapin nasi kotak di istana. Menteri makan nasi kotak, biasa, dulu saya tidak pernah sebelum jadi menteri tidak pernah makan nasi kotak," ujar Susi.

Namun, Susi berkata, itulah seninya. Kerja keras Susi pun membuahkan hasil sampai akhirnya kebijakan penenggelaman kapal direstui Jokowi.

"Itu salah satu seni yang saya nikmati. Hujan-hujan di depan sebelum naik mobil makan nasi kotak. Saking laparnya. Akhirnya Presiden setuju saya balik ke kantor," tutup dia. (zlf/zlf)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed