Waktu kecil Rini mengaku tak menyangka dirinya akan menjadi Menteri atau direktur di perusahaan multinasional. "Cita-cita saya waktu kecil itu justru maunya jadi insinyur," kata Rini dalam talkshow Kartini Millenials Inspiring Day di De Tjolomadoe, Karanganyar, Jawa Tengah, Sabtu (28/4/2018).
Dia menjelaskan keinginan menjadi insinyur terjadi dengan sendirinya. Saat itu orang tua Rini pun tidak membatasi keinginan anaknya untuk menempuh pendidikan untuk cita-citanya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia mengungkapkan, seiring berjalannya waktu dan melihat sang ayah Soemarno sebagai ekonom dan pernah menjabat Gubernur Bank Indonesia (BI) ia semakin kagum.
"Makin besar saya melihat ayah, beliau ekonom dan pernah jadi Gubernur BI. Akhirnya saya mau seperti beliau, jadilah saya sekolah ekonomi," ujar dia.
Saat usianya 24 tahun,setelah lulus sekolah dari Amerika Serikat (AS), Rini mengikuti Management Trainee di Citibank, kemudian usia 31 ia didapuk menjadi Direktur Keuangan Astra Internasional. Di usianya yang ke 39 Rini menduduki posisi Direktur Utama Astra dan pada usia ke 42 dia didaulat menjadi Menteri Perindustrian dan Perdagangan.
"Saya dalam bekerja tidak berambisi apapun. Saya dikasih tanggung jawab dalam bekerja maka saya mau menghasilkan yang terbaik," ujarnya.
Dalam bekerja, Rini mengaku harus seimbang dengan keluarga. Menurut dia, anak adalah hartanya yang paling berharga.
Dia menceritakan saat anaknya masih kecil, dis berusaha untuk selalu ada saat anaknya membutuhkan. Misalnya ia bangun dan menyiapkan perlengkapan sekolah sang anak sebelum mereka bangun.
Kemudian jika ada waktu lebih dia akan mengusahakan untuk mengantar anaknya ke sekolah. Selain itu akhir pekan dan hari libur adalah waktu yang tepat untuk quality time bersama keluarga.











































