googletag.defineSlot('/4905536/detik_desktop/finance/pop_ups', [785, 440], 'div-gpt-ad-1574092191519-0').addService(googletag.pubads());
ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 05 Sep 2018 07:36 WIB

Cerita Sukses

Kisah Sri Prakash, Remaja India yang Jadi Orang Terkaya di RI

Puti Aini Yasmin - detikFinance
Foto: Sri Prakash (Forbes) Foto: Sri Prakash (Forbes)
FOKUS BERITA Sukses dan Kaya Raya
Jakarta - Menjadi seorang imigran dan mencoba peruntungan di negeri orang tentu bukan hal yang mudah. Namun, bagi remaja asal India,SriPrakash pengalaman tersebut menjadi hal yang luar biasa.

Adalah seorang Sri Prakash Lohia, pemuda asal India yang merantau ke Indonesia dan sukses besar dengan 'kerajaan' Indorama di Purwakarta, Jawa Barat. Itu adalah perusahaan pembuat benang pintal yang didirikan tahun 1976.

Sri Prakash saat itu masih muda. Pria kelahiran tahun 1952 ini masih berumur 21 tahun saat merantau ke Indonesia bersama Ayahnya di tahun 1973.

Bagi Prakash, tahun-tahun awal mendirikan perusahaan merupakan bagian terberat. Namun hal itu bisa dilewati, hingga saat ini perusahaan tersebut menjadi produsen bahan baku tekstil terbesar di Indonesia.

"Masa tersulit itu terjadi di tiga sampai empat tahun pertama," jelas pria yang lulus dari Universitas Delhi ini seperti yang dikutip detikFinance dari Quartz India, Selasa (4/9/2018).



Karena usaha yang terus berkembang, Sang Ayah akhirnya memutuskan untuk membagi perusahaan tersebut ke tiga anaknya untuk masing-masing dikembangkan ke Thailand dan India pada akhir 1980-an. Sedangkan yang di Indonesia dimiliki oleh Prakash.

Pertengahan tahun 1990 mungkin menjadi sejarah bagi Prakash karena perusahaannya memutuskan untuk memproduksi polyethylene terephtalate (PET) yang digunakan untuk memproduksi botol minuman plastik, seperti Coke dan Pepsi.

Perusahaan itu pun terus berkembang dengan adanya kerjasama antar perusahaan yang ada di Indonesia dan Thailand milik sang adik menjadi Indorama Venture. Langkah ini menjadikan perusahaan memiliki pendapatan yang cukup besar.

Terbukti, di tahun 2014, perusahaan tersebut mampu mencatat penjualan bersih sebesar US$ 726 juta dan laba sebesar US$ 4 juta.

"Selama empat tahun kita selalu mengimpor polyester (bahan baku dasar benang) dari Taiwan. Tapi saya memutuskan untuk membuatnya sendiri. Jadi kami membeli tanaman dari pemain besar termasuk dari Dow Chemicals di Italia, Dupont di Amerika dan SK Chemicals di Polandia dan Indonesia," papar dia beberapa waktu lalu.

Selain memiliki usaha pembuatan benang, pria yang saat ini berusia 66 tahun ini juga memiliki beberapa perusahaan seperti sektor minyak di Nigeria, dan perusahaan pupuk yang mana bisa menambah pundi-pundi kekayaannya. Sebab perusahaan tersebut memiliki pendapatan mencapai US$ 10 miliar per tahun.



Dengan kejelian Prakash dalam berbisnis, akhirnya pria yang tercatat sebagai warga negara Indonesia ini masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia. Di tahun 2017, dengan jumlah kekayaan saat itu US$ 6,4 miliar atau Rp 92,8 triliun (kurs Rp 14.500), Sri Prakash duduk di posisi 5 orang terkaya se-Indonesia.

Hingga saat ini pria yang berkediaman di London, Inggris tersebut sudah memiliki harta US$ 7,1 (per April 2018). Sri Prakash hanya kalah dari Hartono bersaudara, Eka Tjipta Widjaja, Susilo Wonowidjojo dan Anthoni Salim.



Saksikan juga video '10 Jajaran Orang Terkaya Sejagat di 2018':

[Gambas:Video 20detik]

(eds/dna)
FOKUS BERITA Sukses dan Kaya Raya
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com