Follow detikFinance
Kamis, 06 Sep 2018 08:11 WIB

Cerita Sukses

Perjuangan Jan Koum, Pendiri WhatsApp yang Di-DO dari Kampus (1)

Danang Sugianto - detikFinance
Jan Koum. Foto: Getty Images Jan Koum. Foto: Getty Images
Jakarta - Siapa yang tidak tahu WhatsApp, sebuah aplikasi pesan elektronik yang tersedia untuk semua jenis ponsel pintar. Di balik kesuksesan aplikasi ini ada nama Jan Koum yang ternyata tak lulus kuliah karena di-drop out (DO) dari sekolahnya.

WhatsApp sendiri berdiri sejak 2009. Awalnya Koum bersama temannya Brian Acton membuat WhatsApp hanya untuk iPhone, tapi sekarang seluruh jenis smartphone bisa menggunakannya.

Kemudahan dan inovasi membuat aplikasi ini cukup disukai. Terbukti pada April 2015, pengguna WhatsApp dinyatakan tembus 800 juta dan awal tahun ini tembus 1,5 miliar.

Namun saat WhatsApp sedang tenar-tenarnya, Koum memutuskan untuk keluar. Dia memilih untuk menjual aplikasinya itu ke Facebook dengan nilai US$ 19 miliar.

Koum diyakini memiliki saham di WhatsApp sebesar 45%, sisanya dikuasai duq temannya yakni Brian Acton dan Jim Goetz. Dari penjualan itu Koen diyakini mendapatkan dana sekitar US$ 6,8 miliar setelah dikurangi pajak.



Menurut data Forbes, seperti dikutip detikFinance, Kamis (6/9/2018), saat ini kekayaan Koum mencapai US$ 9 miliar atau sekitar Rp 134,1 triliun (kurs Rp 14.900). Nilai kekayaan yang cukup besar bagi seorang pria berusia 42 tahun itu.

Koum sendiri lahir dan dibesarkan di sebuah desa kecil di luar Kiev, Ukraina. Ayahnya merupakan manajer konstruksi yang membangun rumah sakit dan sekolah, sementara ibunya hanya seorang ibu rumah tangga.

Saat itu, Ukraina juga dilanda gejolak politik. Hidup tidak mudah bagi keluarga Koum, terlebih mereka keturunan Yahudi. Orang tua Koum jarang menggunakan telepon karena takut disadap dan bisa berakibat buruk.

Pada saat berusia 16 tahun, Koum dan ibunya berimigrasi ke Mountain View, Amerika Serikat. Dia menempati satu apartemen kecil berisi dua kamar hasil bantuan dari pemerintah setempat. Sementara ayahnya tak berhasil merantau ke AS.

Ibunya bekerja sebagai pengasuhan bayi dan Koum bekerja sebagai penyapu lantai toko kelontong untuk membantu memenuhi kebutuhan. Ketika ibunya didiagnosis mengidap kanker, mereka hidup dari tunjangan cacatnya.

Untungnya Koum cukup fasih berbahasa Inggris, sehingga mempermudah dirinya untuk sekolah di AS. Namun dia tidak menyukai jenis pertemanan di sekolah AS.



Koum menjadi pembuat onar di sekolah. Dia sering berkelahi, untungnya dia memiliki postur tubuh yang tinggi dan besar.

Meski begitu dia cukup pintar. Pada usia 18 tahun Koum mulai belajar jaringan komputer sendiri dengan membeli buku panduan dari toko buku bekas dan mengembalikannya ketika dia selesai. Dia lalu bergabung dengan kelompok peretas yang disebut w00w00 di jaringan obrolan internet Efnet.

Setelah lulus dari SMA, dia mendaftar ke San Jose State University dan bekerja paruh waktu di Ernst & Young sebagai penguji sistem keamanan.

Setelah itu, Jan Koum bertemu dengan Brian Acton, temannya yang akan mendampinginya menciptakan sebuah aplikasi messanger fenomenal abad 21. Ingin tahu bagaimana ceritanya? Pantau terus detikFinance untuk lanjutan cerita sukses berikutnya. (dna/dna)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed