Follow detikFinance
Jumat, 07 Sep 2018 08:26 WIB

Cerita Sukses

Perjuangan Jan Koum, Pendiri WhatsApp yang di-DO dari Kampus (2)

Danang Sugianto - detikFinance
Jan Koum. Foto: Getty Images Jan Koum. Foto: Getty Images
Jakarta - Sejak usia 18 tahun, Jan Koum mulai belajar jaringan komputer sendiri dengan membeli buku panduan dari toko buku bekas dan mengembalikannya ketika dia selesai. Dia lalu bergabung dengan kelompok peretas yang disebut w00w00 di jaringan obrolan internet Efnet.

Setelah lulus dari SMA, dia mendaftar ke San Jose State University dan bekerja paruh waktu di Ernst & Young sebagai penguji sistem keamanan.

Lalu pada 1997 dia bertemu dengan Brian Acton yang saat itu bekerja sebagai karyawan Yahoo. Saat itu Koum iseng melamar ke Yahoo dan diterima sebagai teknisi infrastruktur.

"Anda bisa tahu dia sedikit berbeda. Dia sangat tidak masuk akal," kata Acton.

Ternyata Koum menyukai gaya tanpa basa-basi Acton juga. Mereka berdua cocok dan akhirnya berkolaborasi membuat WhatsApp.

"Kami tidak punya kemampuan untuk omong kosong," kata Koum.

Enam bulan kemudian Koum diwawancarai di Yahoo dan mendapat pekerjaan sebagai teknisi infrastruktur. Dia masih kuliah di San Jose State University ketika dua minggu bekerja di Yahoo, salah satu server perusahaan rusak. Pendiri Yahoo David Filo menelepon ponselnya untuk meminta bantuan.

"Saya di kelas," jawab Koum diam-diam. "Apa yang kamu lakukan di kelas? Pergilah ke kantor" Kata Filo.


Saat itu tim teknisi Yahoo sangat sedikit, itulah mengapa Filo memaksa Koum untuk datang. Setelah kejadian itu, dia drop out dari kuliah dan fokus bekerja.

"Lagi pula aku benci sekolah," kata Koum.

Ketika ibu Koum meninggal karena kanker pada tahun 2000, Koum praktis hidup sendiri. Acton menawarkan dirinya bantuan dan tinggal di rumahnya.

Sembilan tahun berikutnya, kedua sahabat ini juga melihat Yahoo melalui beberapa pasang surut. Akhirnya pada September 2007, Koum dan Acton memutuskan untuk keluar dari Yahoo.

Mereka melamar lagi ke perusahaan IT ternama, Facebook, namun keduanya ditolak. Siapa sangat perusahaan yang pernag menolaknya justru tertarik membeli aplikasi yang dibuatnya.

"Kami adalah bagian dari klub penolakan Facebook," kata Acton.

Kemudian pada bulan Januari 2009, ia membeli iPhone dan menyadari bahwa App Store yang baru berusia tujuh bulan akan memunculkan industri aplikasi yang menjanjikan.


Dia mengunjungi rumah Alex Fishman, seorang teman dan mengundangnya ke komunitas lokal Rusia ke tempatnya di West San Jose untuk makan malam. Mereka berdua berdiri berjam-jam membicarakan ide Koum untuk sebuah aplikasi sambil minum teh di meja dapur Fishman.

Fishman tertarik dengan ide Koum. Menurutnya, ide status di samping mama itu keren. Status menunjukan apakah individu itu sedang sibuk, baterainya hampir habis atau sedang berada dalam gim.

Koum kemudian menemukan nama program tersebut, yaitu WhatsApp yang terdengar familiar seperti kalimat whats up. Seminggu kemudian pada 24 Februari 2009, Koum mendirikan perusahaan WhatsApp Inc di California. Aplikasi itu sejatinya belum dibuat, namun dia nekat jalan terus.

Koum menghabiskan waktunya melakukan kode untuk sync aplikasi dengan nomor ponsel di seluruh dunia. WhatsApp versi awal pun jadi. Namun demikian, aplikasi itu belum sempurna dan sering crash. Saat peluncurannya, hanya ratusan jumlah download, kebanyakan teman teman Fishman dan Koum sendiri.

Pada awalnya WhatsApp terus mengalami gangguan. Ketika Fishman menjajalnya, hanya ada segelintir akun WhatsApp di aplikasinya dari ratusan nomor telepon yang tersimpan di HP-nya.

Koum hampir menyerah dengan keadaan. Namun Acton mengguruinya. "Kamu idiot jika berhenti sekarang," katanya kala itu.


Secercah pertolongan kemudian datang dari Apple yang meluncurkan push notifications pada 2009. Fitur ini memungkinkan Koum memodifikasi WhatsApp sehingga setiap kali pengguna mengubah status, otomatis mengabarkan pada setiap orang di jaringan.

Koum menyadari ia telah menciptakan WhatsApp sebagai instant messaging baru, dari sebelumnya hanya ditujukan sebagai aplikasi untuk update status di kontak.

Saat itu, layanan messaging populer yang menjadi pesaing hanya BlackBerry Messenger (BBM), namun kelemahannya terbatas hanya bisa digunakan di BlackBerry. Koum kemudian merilis WhatsApp 2.0 dengan fitur messaging dan jumlah penggunanya naik menjadi 250 ribu.

Potensi WhatsApp membuat Acton semakin tertarik. Ia berhasil menarik pendanaan dari lima orang mantan karyawan Yahoo senilai USD 250 ribu. Acton pun bergabung secara resmi dan bersama Koum, mereka memiliki saham WhatsApp sampai 60%.

WhatsApp pun kemudian dibuat untuk bermacam platform populer termasuk iPhone, Android dan BlackBerry. Mereka memilih metode aplikasi berbayar dan akhirnya mampu menuai pendapatan US$ 5.000 per bulan di awal tahun 2010.

Hasilnya? Anda bisa lihat sendiri sekarang, WhatsApp menjadi aplikasi pesan elektronik paling populer di abad 21. Bahkan menggantikan SMS yang dulu dipakai pertama kali sebagai pesan elektronik.

Saat ini kekayaan Koum mencapai US$ 9 miliar atau sekitar Rp 134,1 triliun (kurs Rp 14.900). Koum menempati urutan 170 orang terkaya di dunia versi Forbes. Dia juga pernah menempati posisi ke-3 pengusaha terkaya di Amerika yang umurnya di bawah 40 tahun pada 2015 silam.

(das/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed