Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 19 Sep 2018 08:40 WIB

Cerita Sukses

Ini Dia Li Shufu, Saingan Elon Musk dari China

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: REUTERS/Hannibal Hanschke/File Photo Foto: REUTERS/Hannibal Hanschke/File Photo
Jakarta - Nama Li Shufu bisa jadi kurang dikenal luas. Namun pria berusia 55 tahun ini adalah penyelamat produsen-produsen mobil dunia yang tengah mengalami kesulitan bisnis.

Li Shufu merupakan seorang pengusaha China terkenal yang terlibat dalam bisnis mobil. Majalah Forbes menempatkannya dalam daftar 100 orang terkaya di dunia dengan jumlah harta mencapai US$ 11,8 miliar atau setara Rp 171 triliun (kurs Rp 14.500).

Di China, Li merupakan orang terkaya nomor 10 (tahun 2018). Dia adalah chairman dari Zhejiang Geely Automobile Holdings, produsen mobil populer di China.

Dikutip detikFinance dari successstory.com, Rabu (19/9/2018), Li Shufu lahir pada tahun 1963 di Taizhou, provinsi Zhejiang, China. Dia lahir dan dibesarkan di daerah agraris di mana menunggangi mobil atau naik pesawat adalah hal mewah.

Kecintaan Li pada dunia otomotif dimulai sejak kecil. Dia membuat model mobil pertamanya pada usia 10 tahun setelah mendapatkan inspirasi dari mobil-mobil Red Flag yang dia lihat di bandara militer dekat rumahnya.

Li adalah lulusan sarjana teknik di Universitas Sains dan Teknologi Harbin. Sementara gelar masternya diselesaikan di Universitas Yanshan dengan bidang teknik mesin.

Kegiatan pertamanya dalam bisnis diawalinya lewat fotografi dengan bantuan US$ 16 yang diberikan oleh ayahnya pada tahun 1980. Kamera murahnya tersebut tidak bagus untuk pekerjaan itu sehingga dia merancang kamera sendiri dengan peralatan dan perabotan pencahayaan untuk studionya.


Pengalamannya dalam bisnis fotografi kemudian membawanya untuk mencoba mengekstraksi emas dan perak dari mesin bekas. Namun, persaingan memaksanya keluar dari bisnis itu.

Pada usia 23 tahun, Li kemudian memulai usaha dalam pembuatan komponen lemari es dan berhasil menciptakan lemari pendingin sendiri dengan nama merek Artic Flower. Namun saking banyaknya pemain yang masuk dalam usaha tersebut, Li pun memutuskan mencari peruntungan baru di ladang lain.

Li akhirnya mendirikan perusahaan bernama Geely yang dalam bahasa Cina, berarti 'beruntung'. Setelah kemunduran dan Pembantaian Tiananmen tahun 1989, ia menyerahkan bisnis itu kepada pemerintah dan pergi belajar untuk beberapa tahun ke depan.

Setelah studinya, ia kembali untuk memulai bisnis sepeda motor pada tahun 1993 yang pada awalnya sukses tetapi kemudian mereda karena masuknya pemain baru. Dia menghasilkan kendaraan roda dua dan mengekspornya ke 22 negara.

Li pun memulai bisnis manufaktur mobilnya pada tahun 1997 yang beroperasi dari sebuah pabrik bekas penjara di Chengdu. Singkat cerita, Geely akhirnya terdaftar di Bursa Saham Hong Kong pada tahun 2005 melalui backdoor listing.

Produksi awalnya pada Agustus 1998 yang tidak memuaskan tak membuat Li menjual perusahaan yang sudah didirikannya itu. Batch kedua mobil bahkan tak memenuhi standar yang dipersyaratkan. Pada tahun 2000, sejumlah mobil lain dari unit keduanya di Ningbo juga ternyata berkualitas buruk.


Namun ketika China bergabung dengan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), ia akhirnyaa mampu mendesain dan memproduksi mobilnya sendiri. Mobil pertamanya bernama 'The Free Cruiser' dengan desain yang disediakan oleh Daewoo Korea Selatan dibuat pada tahun 2002 dan dipamerkan di sebuah acara internasional.

Pada tahun 2009, Geely akhirnya mengakuisisi perusahaan transmisi otomotif terbesar, Australia DSI.

Sebelumnya dia juga membeli Volvo dari Ford Motor Company pada tahun 2002. Awalnya, Ford enggan mempertimbangkan proposalnya karena perusahaan Li dianggap tak akan mampu mengelolanya.

Tapi akhirnya dia berhasil mengakuisisi Volvo dari Ford pada tahun 2010. Saat itu Ford meninggalkan Volvo dengan pekerjaan rumah yang sulit karena harus membuat perubahan di perusahaan yang tengah menurun penjualannya itu.

Li Shufu juga menghebohkan dunia otomotif setelah memutuskan membeli saham Daimler, induk dari Mercedes-Benz dan smart pada awal tahun ini. Li Shufu kecil padahal termasuk orang yang membeli mainan pun tak mampu.

Beberapa orang menduga bahwa tujuan Li membeli saham Daimler adalah untuk membuat mobil listrik. Pemerintah China diketahui tengah sangat bersemangat menjadi pasar mobil terbesar di dunia. Hal ini membuatnya kerap dianalogikan sebagai Elon Musk dari China.

Li telah memenangkan banyak penghargaan dan gelar seperti Master Operasi dan Manajemen, Elitist of China Automobile Industry selama 50 tahun terakhir, 10 pemimpin teratas dari Inovasi Independen dari Perusahaan Swasta China, hingga 10 Pemimpin Inovasi Independen dari Perusahaan Swasta China.



Saksikan juga video 'Tangis Elon Musk Pecah Demi Pertahankan Tesla':

[Gambas:Video 20detik]

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed