Follow detikFinance
Jumat, 19 Okt 2018 08:38 WIB

Cerita Sukses

Kisah Anak Tukang Kayu yang Mau Beli AC Milan

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Foto: Dok. Forbes Foto: Dok. Forbes
Jakarta - Belum lama ini seorang pengusaha Amerika Serikat (AS) bernama Rocco Commisso tengah menjadi perbincangan hangat oleh para penikmat sepakbola. Pria berusia 68 tahun tersebut diketahui berniat membeli klub sepakbola populer asal Italia, AC Milan.

Rocco Commisso ternyata menyimpan cerita menarik dalam mencapai posisinya saat ini. Pria yang masuk dalam daftar 400 orang terkaya di AS ini ternyata adalah anak dari seorang tukang kayu dengan kehidupan yang serba pas-pasan.

Jumlah hartanya yang saat ini mencapai US$ 3,9 miliar atau setara Rp 58,5 triliun (kurs Rp 15.000) ini tak pernah dia duga bisa miliki jika melihat pengalaman hidupnya dulu.

Rocco Commisso berasal dari Italia. Bapaknya adalah seorang tukang kayu yang memiliki penghasilan sangat minim dan di bawah rata-rata.

Bahkan untuk makan terkadang harus rela bersabar menunggu pekerjaan ayahnya hingga selesai. Bersama keluarganya akhirnya dia memutuskan hijrah dari Italia ke Negeri Paman Sam saat usianya masih 12 tahun.

Setelah hijrah, Rocco mengalami masalah dalam komunikasi dikarenakan memang sama sekali tidak menguasai bahasa Inggris. Namun demikian, kota New York memberi ia keberuntungan yang bagus. Rocco melihat ada sebuah kompetisi bakat di kota tersebut.

Rocco yang masih muda mendaftarkan diri sebagai pemain akordeon solo dan akhirnya dapat menjuarai kompetisi bakat yang ia ikuti. Setelah bakatnya diuji di medan kompetisi, diq mampu membuat terkagum manajer Wakefield. Karena kagum dengan bakat Rocco manajer akhirnya menulis surat ke sebuah sekolah katolik lokal agar mau menerima Rocco menjadi salah satu murid di sekolah tersebut.

"Saya menjadi satu-satunya anak yang berhasil masuk ke sekolah tersebut tanpa tes," katanya.

Rocco muda tetap harus bekerja selama 40 jam per minggu demi mencukupi biaya sekolahnya. Namun keberuntungan lagi-lagi berpihak kepadanya saat hendak mendaftar kuliah.

Guru olahraganya memanggil pelatih sepakbola Columbia University dan mengatakan ia memiliki murid yang sangat menjanjikan. Hanya dalam waktu sebulan, Rocco yang bahkan tak pernah bermain sepakbola di sekolah mendapatkan beasiswa penuh di kampus ternama itu.

Dia lantas mengambil sekolah bisnis guna memenuhi keinginannya mengubah hidup menjadi lebih baik secara finansial. Rocco lulus sebagai salah satu lulusan terbaik dan mendapatkan penghargaan dari kampusnya.

Singkat cerita, Rocco berencana bekerja di industri perbankan dan investasi. Namun sayangnya tak ada sama sekali tawaran ataupun peluang bisnis yang datang saat itu.

Dia akhirnya mendapat pekerjaan pertamanya di Chase Manhattan Bank, sebelum akhirnya pindah ke Royal Bank of Canada.


"Ada diskriminasi waktu itu. Saya tak pernah lupa teman saya mengatakan, 'Rocco, kamu tahu apa masalahnya? Itu lantaran kamu yahudi. Belum ada orang Italia yang mendarat di Wall Street'," katanya.

Tak lama berkarir di dunia perbankan, pria berusia 68 tahun ini beralih industri dan bekerja sebagai CFO di Cablevision Industries. Setelah bekerja selama sembilan tahun di perusahaan tersebut, Rocco lantas mencoba mendirikan perusahaan sendiri bernama Mediacom. Saat itu, industri perkabelan sedang sangat rentan lantaran banyak regulasi baru yang meningkatkan persaingan antar pengusaha.

Commisso kemudian berinvestasi dalam infrastruktur. Sampai saat ini, ia telah menghabiskan $ 2,5 miliar untuk meningkatkan jaringannya, yang telah menghalangi operator lain memasuki wilayahnya. Secara historis, Mediacom malah berjuang untuk pelanggan melawan perusahaan televisi satelit seperti DirecTV. Perusahaan-perusahaan telepon, meski panik awal, tidak pernah menimbulkan banyak ancaman.

Pada akhir 1990-an, mqsa suram untuk sektor ini mulai mereda. Dan dengan waktu yang tepat, Mediacom pun terdaftar menjadi perusahaan publik di Nasdaq dengan valuasi US$ 2,5 miliar pada Februari 2000.

Secara keseluruhan, ia mengumpulkan US$ 380 juta untuk membayar utang, dan saham Kelas B memungkinkannya mempertahankan kendali suara mayoritas.

"Tidak ada yang bisa menendang saya keluar," katanya.

Namun Mediacom kembali sempat terpuruk lantaran dijerat utang yang cukup besar. Harga saham Mediacom turun hampir 80% dalam satu dekade setelah IPO-nya.


Pada tahun 2010, Rocco memutuskan untuk keluar dari pasar modal. Setelah negosiasi pelik dan gugatan pemegang saham, ia mengakuisisi bisnis pada Maret 2011 sekitar US$ 600 juta dan kemudian menjadi pemilik tunggal.

Mediacom adalah penyedia broadband yang dominan di banyak wilayahnya, dan layanan kecepatan gigabit barunya setara dengan yang tercepat di negara ini. Perusahaan ini merupakan prospek akuisisi yang menarik bagi perusahaan-perusahaan besar seperti Altice, yang telah meraup beberapa operator dalam beberapa tahun terakhir, meningkatkan valuasi di seluruh industri.

Dengan kerja kerasnya, Rocco berhasil mengatasi seluruh kendala di awal bisnisnya tersebut. Setiap tahun perusahaannya terus menunjukkan pertumbuhan yang luar biasa.

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed