Follow detikFinance Follow Linkedin
Senin, 19 Nov 2018 07:18 WIB

Cerita Sukses

Anak Adopsi Memulai Perusahaan Termahal Dunia di Garasi (1)

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Steve Jobs. Foto: Internet Steve Jobs. Foto: Internet
FOKUS BERITA Sukses dan Kaya Raya
Jakarta - Salah satu pendiri Apple, Steve Jobs telah meninggal dunia karena kanker di usianya yang ke-56 tahun pada tujuh tahun yang lalu. Namun kisah perjalanan Steve Jobs menciptakan perangkat komputer Apple yang merajai dunia tak pernah bosan untuk terus disimak.

Latar belakang Steve Jobs juga tak kalah menarik ceritanya. Steve Jobs yang lahir pada 24 Februari 1955 adalah anak angkat dari pasangan Paul dan Clara Jobs.

Orang tua kandung Jobs adalah Joanne Carole Schieble, seorang mahasiswi dari Wisconsin dan Abdulfattah "John" Jandali, imigran Muslim asal Suriah. Jobs yang lahir saat keduanya masih ada di bangku kuliah terpaksa direlakan untuk diadopsi, selain karena keluarga Jandali yang tak setuju pernikahannya dengan Schieble.

Jobs pun diadopsi oleh Paul dan Clara Jobs, sepasang pekerja yang tinggal di Distrik Sunset, San Francisco, AS. Schieble awalnya tak mau anak kandungnya tersebut dibesarkan oleh dua orang yang tidak berpendidikan, namun akhirnya menyetujui adopsi setelah Paul dan Clara berjanji bahwa anak mereka itu akan disekolahkan hingga kuliah.

Ketika Jobs berusia dua tahun, ia kemudian memiliki seorang saudari yang juga merupakan anak angkat Paul dan Clara, yaitu Patricia. Keluarga mereka pun pindah ke Mountain View, California pada tahun 1961.

Di rumah yang lebih besar itu, Paul Jobs; ayah angkat Jobs pun kembali ke hobinya mereparasi mobil. Steve Jobs muda pun sering membantu ayahnya membangun ulang mobil serta dengan berbagai proyek reparasi lainnya dan rumah tangga.

Keseharian Jobs membantu ayahnya inilah yang menjadi latar belakang minat awal Jobs dalam bidang elektronik. Dia juga banyak bertukar pikiran dengan banyak insinyur yang tinggal di lingkungan barunya.

Tetapi selain tetangganya itu, Jobs kesulitan mencari teman. Setelah belajar membaca saat balita, sekolah menurutnya membosankan, hingga Jobs sering mengalami masalah disiplin dan akademis di sekolah.

Di usia muda, minat Jobs dalam bidang elektronik semakin kuat. Ketika dia berusia 13 tahun, Bill Hewlett dari Hewlett Packard menawarkan Jobs pekerjaan musim panas untuk menyusun penghitungan frekuensi.

Pada musim gugur berikutnya, Jobs mulai belajar di Homestead High School, di mana dia akan bertemu Steve Wozniak, jagoan elektronik dari sekolah tersebut.

Saat itu juga di Homestead, Jobs mengembangkan gaya hidupnya dengan budaya yang merepresentasikan Amerika selama akhir 1960-an. Dia memanjangkan rambutnya dan menjadi tertarik pada musik, sastra dan agama, terutama agama-agama Timur.

Pada tahun 1972, Steve Wozniak membangun papan sirkuit dengan versi sendiri dari video game Pong, yang dia berikan kepada Jobs. Dengan papan sebagai resumenya, Jobs meyakinkan perusahaan Atari, Inc. untuk memberinya pekerjaan sebagai teknisi, setelah itu ia meninggalkan studinya di Reed College di Oregon.


Setelah meninggalkan Atari dan menghabiskan tujuh bulan mengunjungi ashram dan tempat suci lainnya di India pada tahun 1972, Jobs akhirnya kembali ke perusahaan Atari, di mana dia bekerja dengan Wozniak untuk mendesain papan sirkuit. Pada saat yang sama, Wozniak juga mengerjakan apa yang ia sebut "kotak biru" yang akan memancarkan nada yang tepat untuk mengelabui jaringan telepon agar pengguna panggilan jarak jauh bisa saling akses dengan biaya gratis.

Bersama Wozniak, Jobs akhirnya menyelesaikan komputer Apple I pada tahun 1976. Jobs pun segera menyarankan agar mereka mencoba untuk menjualnya.

"Saat saya merintis Apple bersama Steve Jobs, kami tak punya uang sama sekali. Kami hanya memiliki ide dan motivasi yang kuat. Motivasi adalah apa yang ada di dalam diri kita, lebih berharga daripada uang," kata Woz.

Bersama dengan temannya Ronald Wayne, mereka akhirnya membentuk Apple Computer di garasi rumah Jobs di Los Altos, California. Komputer-komputer Apple pada saat awal tentu jauh dari mesin Apple yang rapi seperti yang kita kenal sekarang.

Gambaran Apple I saat itu adalah sebagai papan sirkuit dengan chip di atasnya, satu set TV DuMont, satu set kaset kaset Panasonic dan satu keyboard.

Wayne kemudian meninggalkan Apple, sementara Daniel Kottke, teman Jobs dari Reed College dan petualangannya di India, bergabung dengan perusahaan. Dengan produk dan visi, ketiganya siap memulai produksi.


Kesulitan yang mereka dapatkan saat awal adalah modal, sehingga mereka menghabiskan berjam-jam di dapur Jobs, menelepon calon investor. Mereka menerima putaran awal pendanaan mereka dari Mike Markkula, seorang manajer pemasaran dan insinyur produk Intel Corp.

Siapa sangka, perusahaan yang mereka rintis dari sebuah garasi 36 tahun silam, kini menjadi salah satu perusahaan teknologi ternama di dunia. Komputer Mac, pemutar musik iPod, ponsel iPhone, dan tablet iPad, adalah contoh kesuksesan produk Apple.

Lalu bagaimana akhirnya Steve Jobs sukses memproduksi produk-produk Apple seperti yang kita kenal sekarang? Simak terus ceritanya di detikFinance.

(eds/ang)
FOKUS BERITA Sukses dan Kaya Raya
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com