Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 18 Des 2018 07:54 WIB

Cerita Sukses

Charles Koch, Manusia Rp 697 T yang Sukses dari Bisnis Warisan

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Charles Koch. Foto: Dok. Forbes Charles Koch. Foto: Dok. Forbes
Jakarta - Nasib ditentukan lewat usaha dan kerja keras dari diri sendiri. Ini adalah resep di balik kesuksesan seorang Charles Koch.

Charles de Ganahl Koch adalah pimpinan, pemilik dan CEO dari perusahaan raksasa di Amerika Serikat (AS), Koch Industries. Selain menjadi seorang pengusaha, dia juga seorang dermawan yang cukup aktif.

Koch Industries didirikan oleh Fred C. Koch, ayah Charles Koch bersama dengan saudaranya David Koch. Perusahaan ini menjadi perusahaan swasta terbesar kedua di AS.

Koch telah memimpin perusahaan selama 4 dekade terakhir, membawa perusahaan mendulang penjualan dan pendapatan yang luar biasa.

Charles Koch dikenal memiliki keterampilan manajemen luar biasa. Charles berhasil memperluas bisnis warisan keluarga hingga 2.600 kali. Perusahaan yang dikelolanya berhasil diekspansi ke lebih dari 60 negara seperti Meksiko, Brasil, hingga China.

Charles Koch yang lahir pada 1 November 1935 merupakan warga AS keturunan Belanda. Nenek moyangnya merupakan seorang Belanda yang bermigrasi ke AS dan menetap di Texas.

Koch menyelesaikan studi di Massachusetts Institute of Technology yang bergengsi, di mana ia lulus dengan beberapa gelar pada tahun 1960.

Ia menerima gelar Bachelor of Science dalam bidang teknik Umum, serta Master of Science di bidang Teknik Kimia dan Mekanik. Setelah kuliah, Koch mulai bekerja dengan Arthur D. Little, Inc.

Namun tak lama setelah itu, pada tahun 1961, dia meninggalkan pekerjaannya tersebut dan pindah ke bisnis keluarga yang didirikan ayahnya, yakni Rock Island Oil & Refining Company.


Dia pun ditunjuk menjadi Presiden Direktur perusahaan tersebut, dan mengganti nama perusahaannya menjadi Koch Industries untuk menghormati ayahnya.

Selain dikenal sebagai seorang dermawan dan pebisnis ulung, Koch juga masuk ke sejumlah komunitas, organisasi politik dan non-politik. Dia telah menjadi anggota aktif Partai Republik, kelompok Libertarian, Amerika untuk Kesejahteraan dan berbagai badan amal di Amerika Serikat.

Amal pendidikannya meliputi institut seperti Mercatus Center di George Mason University dan Institute for Humane Studies. Koch juga memulai Koch Cultural Trust bersama dengan istrinya untuk mendukung seniman dan profesional kreatif.

"Saya percaya bahwa kronisme tidak lebih dari kesejahteraan bagi yang kaya dan berkuasa, dan itu harus dihapus," katanya.

Dalam bukunya, 'The Science of Success' yang diterbitkan pada tahun 2007, Koch menekankan pada strategi bisnis dan kebijakan manajemennya sendiri yang berkaitan dengan membangun bisnis apa pun. Perusahaannya, Koch Industries, awalnya adalah perusahaan penyulingan minyak dan bahan kimia.

Namun, dengan kerja kerasnya, Koch memperluas peluang yang ada ke berbagai sektor industri termasuk mineral, serat, hutan dan produk konsumen dan peralatan proses dan pengendalian polusi. Perkiraan penjualan tahunan untuk Koch Industries mencapai US$ 110 miliar.

Koch industries merupakan perusahaan terbesar kedua di negeri 'Paman Sam'. Bisnisnya bergerak mulai dari penyulingan minyak, kimia, produk kertas, serta jasa keuangan.


Hampir setiap rumah tangga di Amerika Serikat memiliki beberapa produk Koch, mulai dari handuk kertas, kayu, karpet, Lycra pakaian olahraga, serta bensin untuk mobil.

Dengan lebih dari 42% saham di Koch Industries, Koch memiliki kekayaan sekitar US$ 48,1 miliar atau setara Rp 697,4 triliun (kurs Rp 14.500). Jumlah harta tersebut mengantarkan Koch ke posisi 8 orang terkaya di dunia menurut majalah Forbes. Dia bersama saudaranya David Koch bahkan pernah masuk dalam daftar orang paling berpengaruh tahun 2011 di majalah TIME.

(eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed