Follow detikFinance Follow Linkedin
Rabu, 19 Des 2018 08:30 WIB

Cerita Sukses

Perjuangan Kartini Muljadi jadi Srikandi Terkaya Berharta Rp 8,8 T

Eduardo Simorangkir - detikFinance
Kartini Muljadi. Foto: Lamhot Aritonang Kartini Muljadi. Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta - Forbes Indonesia baru saja merilis daftar 50 orang terkaya di Indonesia tahun 2018. Dalam daftar tersebut, ada dua orang wanita yang berhasil masuk di antara orang-orang super tajir di tanah air tersebut.

Salah satunya adalah Kartini Muljadi, pengusaha di bidang farmasi pemilik dari Tempo Scan Group. Kartini yang kini berusia 88 tahun tersebut menempati posisi 49 dalam daftar orang terkaya Indonesia versi majalah Forbes, dengan jumlah harta US$ 610 juta atau sekitar Rp 8,8 triliun (kurs Rp 14.500).

Meski jumlah hartanya turun dari tahun sebelumnya yang sebesar US$ 680 juta, namun tradisi Kartini memegang predikat wanita terkaya di Indonesia sudah berlangsung cukup lama. Jumlah hartanya bahkan pernah tembus US$ 1,5 miliar pada enam tahun silam.

Kartini Muljadi bersama anak-anaknya memiliki Tempo Group. Perusahaan terbesarnya adalah PT Tempo Scan Pacific, yang membuat obat-obatan dan barang-barang konsumsi.

Namun Kartini memulai perjalanan karirnya bukan dari pengusaha. Dia memulai karir sebagai seorang pengacara dan mantan hakim.

Dikutip dari situs Ikatan Alumni Fakultas Hukum Universitas Indonesia (Iluni FHUI), Rabu (19/12/2018), Kartini memulai karirnya sebagai hakim.

Pada situs itu, Kartini disebut sebagai orang sukses. Wanita kelahiran 17 Mei 1930 ini pada masa kecilnya merasakan pendidikan sekolah khusus keturunan Belanda.

Kartini sempat kuliah pada perguruan tinggi di Surabaya dan Yogyakarta, Kartini kemudian pindah ke Jakarta untuk masuk Fakultas Hukum dan Ilmu Pengetahuan Kemasyarakatan Universitas Indonesia. Di sela-sela kuliahnya, Kartini bekerja di Perhimpunan Sosial Tjandra Naya yang maksud tujuannya adalah menyelenggarakan pendidikan serta pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu.

Wanita ini meraih gelar sarjana hukum pada 1958, pada saat itu Kartini telah mempunyai dua orang anak. Kartini kemudian memutuskan berkarir di bidang Kehakiman dan diangkat sebagai Hakim pada Pengadilan Negeri Istimewa Jakarta, di mana dia ditugaskan untuk menangani perkara pidana, perdata dan kepailitan.


Pada saat Kartini mulai tugasnya di Pengadilan, para Hakim warga negara Belanda baru mengundurkan diri dan digantikan oleh Hakim warga negara Indonesia. Setelah suaminya yang bernama Djojo Muljadi SH, semasa hidupnya bekerja sebagai notaris, meninggal dunia dalam tahun 1973, Kartini mengundurkan diri sebagai Hakim karena merasa pendapatannya sebagai Hakim yang berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) tidak akan cukup untuk membiayai keluarganya.

Setelah menempuh dan lulus ujian negara untuk notariat, Kartini diangkat sebagai Notaris berkedudukan di Jakarta, dan mulai mengajar mata kuliah perdata dan hukum acara perdata di beberapa fakultas hukum di Jakarta. Konsistensi dan komitmennya yang tinggi dalam memberi pelayanan terbaik sebagai Notaris, menjadikannya sebagai notaris papan atas, yang menjadi rujukan perusahaan-perusahaan besar pada tahun 1970-an dan 1980-an.

Tahun 1990, setelah mengundurkan diri lebih dini dari jabatannya sebagai Notaris, Kartini mendirikan kantor pengacara dan konsultan hukum dengan nama Kartini Muljadi & Rekan. Kantor hukumnya pun berkembang pesat; tidak hanya perusahaan-perusahaan besar nasional namun juga perusahaan multinasional, yang menjadi langganannya.

Perusahaannya Kartini Muljadi & Rekan (KMR) adalah sebuah firma hukum perusahaan dan komersial Indonesia yang terkenal.

Ketika terjadi badai krisis keuangan tahun 1997/1998, Kartini terlibat aktif dalam memberikan bantuan hukum untuk membangkitkan sektor perbankan yang terpuruk. Dia diangkat sebagai anggota tim yang bertugas memberikan nasehat hukum pada Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), serta memberikan pendapat hukum dan rekomendasi kepada instansi pemerintah terkait, memprakarsai Master Settlement dan Master Refinancing Agreement antara BPPN dan para pemegang saham bank-bank bermasalah.

Kini Kartini Muljadi dikenal sebagai pemilik Tempo Scan Group yang mayoritas bisnisnya bergerak di bidang farmasi. Puncaknya yakni saat Tempo Scan Group melepas saham ke publik pada 2013 lalu dan mendapatkan dana sebesar US$ 218 juta. Hingga kini Kartini sukses menempati predikat wanita terkaya di Indonesia, bahkan bertahun-tahun sempat menjadi satu-satunya wanita yang masuk dalam daftar Forbes 50.


Dia juga pernah menjabat anggota Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (2002-2007) dan menjadi Ketua Majelis Wali Amanat Universitas Indonesia (2004-2007). Kartini mendirikan Yayasan Daya Bhakti Pendidikan Universitas Indonesia yang bergerak di bidang sosial kemanusiaan, terutama membimbing calon-calon pemimpin bangsa.

Karena kerja kerasnya, Kartini turut membangkitkan kembali sektor keuangan, khususnya menggiatkan kembali pasar modal di Indonesia. Kartini menerima penghargaan dari Megawati Soekarno Putri yang pada saat itu menjabat Presiden Republik Indonesia dengan memberikan kepada Kartini penghargaan Capital market Life Time Achievement Award pada tahun 2004.

Di usia tuanya, dia tetap bersemangat menjalankan kegiatan-kegiatan sosial kemasyarakatan.

"Tuhan menciptakan manusia dengan tujuan yang baik. Maka kita, manusia, harus melakukan hal-hal yang baik," katanya. (eds/ang)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: promosi[at]detikfinance.com
Iklan: sales[at]detik.com
News Feed