ADVERTISEMENT
Follow detikFinance Follow Linkedin
Selasa, 10 Sep 2019 15:38 WIB

Kisah Habibie: Bangun Industri Penerbangan hingga Dihantam Krisis

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Foto: Instagram Foto: Instagram
Jakarta - Presiden ke-3 RI BJ Habibie tengah terbaring sakit di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta. Ia menjalani perawatan intensif di rumah sakit tersebut. Sejumlah tokoh telah menjenguk Habibie, termasuk Presiden Joko Widodo (Jokowi).

Terlepas dari itu, bicara mengenai Habibie, tak lengkap jika tidak membahas soal penerbangan alias kedirgantaraan. Sebab, jasanya pada industri penerbangan Indonesia sangat besar.

Kisah perjalanan Habibie membangun industri penerbangan tercatat oleh detikcom. Dalam acara Presidential Lecture yang digelar pada Februari 2017, Habibie mulanya mengisahkan perjalanan pendidikannya.

Dia bilang, menempuh pendidikan dari S1 hingga S3 tanpa beasiswa. Bukan karena ia tidak pandai, namun karena tekad ibunya yang kemudian membawanya bersekolah hingga Jerman.

Habibie sendiri tak menepis jika uang kiriman dari orang tuanya kadang telat masuk. Alhasil, ia harus menahan lapar di tengah masa studinya.

"Saya S1 dan S2 dibiayai keluarga, uangnya kadang-kadang telat, nggak bisa makan, sehingga dapat tuberkulosis. S3 saya mandiri, saya kerja," kata Habibie.

Habibie menyelesaikan studi S3 pada usia sangat muda, yakni 28 tahun pada 1964.

Beberapa waktu berselang, ia dipanggil oleh Presiden RI ke-2 Soeharto di kediamannya. Habibie ingat persis kapan ia bertemu dengan Soeharto. Saat itu 28 Januari 1974 pada pukul 19.30 di bilangan Cendana, Menteng, Jakarta Pusat.

"Saya datang tanya ada apa. Memasuki tahun 1974 yang hari Senin tanggal 28 Januari di Cendana setengah 8 malam," tutur Habibie.


Habibie diminta mengembangkan industri penerbangan dalam negeri. Namun ia mengajukan syarat, yakni dibiayai dari penjualan sumber daya alam. Kemudian, lahirlah Industri Pesawat Terbang Nasional (IPTN), yang jadi cikal bakal PT Dirgantara Indonesia (Persero) atau PTDI.

"Saya mau dengan persyaratan saya tidak mau dibiayai dengan pinjaman luar negeri. Saya hanya mau dibiayai dari penjualan sumber daya alam," jelas Habibie.

Lewat IPTN, pesawat-pesawat buatan anak bangsa dikembangkan. Hingga pada 1995 pesawat N250 mengudara dan menjadi kado ulang tahun kemerdekaan RI ke-50.

"Tahun 1995 Wakil Presiden masih Pak Try (Sutrisno), N250 terbang hadiah bangsa Indonesia 50 tahun merdeka yang saya janji sama Pak Harto," kenang Habibie.

Nahas, krisis melanda Indonesia pada 1997-1998. Industri penerbangan yang bakal menjadi andalan Tanah Air juga kena dampak. IPTN terpaksa ditutup karena IMF menolak memberi bantuan untuk pengembangan pesawat.

"Industri strategis di dunia ada tiga yang ditutup, pertama di Jepang, kedua Jerman, dan Indonesia waktu reformasi, sedih nggak. Tapi sudah deh itu lebih murah daripada kita perang saudara," ujar Habibie.

Industri yang dibangun oleh Habibie awalnya memperkerjakan 20 orang pegawai dan jumlahnya naik hingga ribuan kali lipat. Saat akan ditutup, IPTN punya 48 ribu pegawai.

"Mulai dari 20 orang waktu itu, saya jadi Wakil Presiden serahkan 48 ribu orang," kata Habibie.

Setelah IPTN ditutup, banyak pegawai hijrah ke perusahaan pesawat terbang lain, seperti Airbus dan Boeing. IPTN bangkit lagi pada tahun 2000 dengan nama PTDI.



Kisah Habibie: Bangun Industri Penerbangan hingga Dihantam Krisis


Simak Video "Habibie akan Terus Hidup di Layar Lebar"
[Gambas:Video 20detik]
(fdl/fdl)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detikfinance.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com