Mengenang Karmaka Surjaudaja, Bankir Senior yang Lolos dari Krisis

Sylke Febrina Laucereno - detikFinance
Senin, 17 Feb 2020 17:53 WIB
Karmaka Surjaudaja
Karmaka Surjaudjaja/Foto: Dok. Istimewa
Jakarta -

Pendiri Bank NISP (sekarang OCBC NISP) Karmaka Surjaudaja tutup usia di Bandung. Ia merupakan bankir senior yang berhasil melalui berbagai tantangan di industri perbankan nasional.

Mengutip laman resmi ocbcnisp.com, Karmaka memulai karier sebagai bankir pada 1963. Saat itu ia menjadi direktur operasional di sebuah bank yang didirikan oleh ayah mertuanya.

Saat itu, Karmaka langsung dihadapkan pada kondisi krisis saat pemerintah mengambil kebijakan sanering memotong nilai rupiah dari Rp 1.000 menjadi Rp 1.

Hal tersebut adalah tantangan yang tak pernah dibayangkan oleh seluruh bank di Indonesia. Saat itu bank kehilangan kepercayaan dari masyarakat, banyak bank yang hancur. NISP saat itu juga menutup beberapa cabangnya.

Mengutip berita detikcom (11/3/2009) Karmaka juga berhasil melalui krisis pada 1987.

Pada 1997 ia mempercayakan kepemimpinan NISP kepada kedua anaknya yakni Pramukti Surjaudaja dan Parwati Surjaudaja. Estafet ini merupakan kepercayaan yang diberikan OCBC Bank kepada keluarga Surjaudaja.

Belajar dari kebijaksanaan dan pengalaman Karmaka, Pramukti mengelola Bank dengan baik dan sekali lagi berhasil melewati krisis finansial pada tahun 1998 (tanpa memperoleh bantuan dari pemerintah).

Untuk mewujudkan tujuan jangka panjang bank, Karmaka juga mendorong kerja sama Bank OCBC NISP dengan bank regional/internasional yang kokoh dan OCBC Bank Singapura menjadi pilihan terbaik. Kerjasama ini akhirnya dimulai pada tahun 1997 melalui pendirian bank patungan, Bank OCBC NISP (sekarang Bank OCBC Indonesia).

Kerja sama ini terus ditingkatkan pada tahun 2004, ketika Bank OCBC membeli 22,5% kepemilikan saham di Bank OCBC NISP.

Secara bertahap, OCBC Bank meningkatkan kepemilikannya melalui penawaran tender dan penawaran saham terbatas kepada publik pada tahun 2005, serta beberapa transaksi di pasar sekunder, yang menghasilkan kepemilikan saham sebesar 74,73% saat ini.

Karmaka berada di belakang keputusan untuk menjual kepemilikan saham keluarga di bank sehingga kehilangan kontrol mayoritas terhadap bank, suatu tindakan yang mengejutkan banyak pihak. Keputusan yang diambil saat itu sesungguhnya merupakan keputusan yang sulit baginya dan keluarganya, namun beliau merasa hal ini harus dilakukan untuk mewujudkan Bank OCBC NISP menjadi salah satu bank terkemuka di Indonesia.



Simak Video "Kerusuhan di Libanon: Toko Dibakar, Gas Air Mata Melayang"
[Gambas:Video 20detik]
(kil/ara)