Profil OSO, Pengusaha yang Dapat Tanda Kehormatan dari Jokowi

Hendra Kusuma - detikFinance
Kamis, 13 Agu 2020 12:40 WIB
Partai Hanura menggelar Musyawarah Nasional ke-III di Hotel Sultan, Jakarta, Selasa (17/12). Munas ini dibuka oleh Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta Odang (OSO).
Foto: Lamhot Aritonang
Jakarta -

Pengusaha senior Oesman Sapta Odang atau yang akrab disapa OSO mendapat anugerah Tanda Kehormatan Republik Indonesia dari Presiden Joko Widodo (Jokowi).

OSO masuk daftar 53 penerima anugerah Tanda Kehormatan Republik Indonesia. Selain OSO, orang nomor satu Indonesia ini juga memberikan anugerah kepada Fahri Hamzah dan Fadli Zon.

Pria kelahiran 18 Agustus 1850 ini sudah malang melintang di berbagai kegiatan, baik dunia bisnis hingga politik tanah air. Kali ini, dia mendapat tanda kehormatan Bintang Mahaputra Utama.

Dia juga pernah menjabat beberapa posisi penting di tanah air. Berdasarkan informasi yang dihimpun detikcom, Kamis (13/8/2020), OSO pernah menjabat sebagai Ketua DPD periode 2017-2019.

OSO juga pernah menjabat Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) sejak, Ketua Umum Partai Hanura, Ketua Umum Asosiasi Koperasi Kelapa Indonesia, Ketua Umum Pengurus Pusat KKI, Ketua Umum Partai Persatuan Daerah, Wakil Ketua MPR RI periode 1999-2004, Ketua Kadin Daerah Provinsi Kalimantan Barat, hingga Komisaris Lion Air

Mengutip laman resmi OSO Group, Pria asal Kalimantan Barat ini berhasil mendirikan perusahaan OSO Group pada tahun 2000. OSO Group merupakan sebuah perusahaan induk swasta yang berkantor di Jakarta Pusat. OSO Group mengelola 13 unit bisnis atau anak usaha yang fokusnya di enam sektor yaitu properti, jasa keuangan, transportasi, pertambangan, manufaktur, agribisnis.

Pada 2019, tercatat salah satu anak usaha OSO Group yaitu PT Citra Putra Realty Tbk melakukan penawaran umum perdana dan berhasil mengumpulkan US$ 6,7 juta pada penawaran awal. Dana tersebut untuk meningkatkan dukungan finansial bagi grup.

Pada 2018, OSO masuk ke dalam daftar orang kaya Indonesia versi Globe Asia. Dia tercatat berada di posisi 104 dengan total harta kekayaan US$ 355 juta atau setara Rp 5,1 triliun (kurs Rp 14.500/dolar).

Sejak tahun 2012, bisnisnya terlacak menggurita, dari sektor pertambangan, perkebunan sawit, perikanan, transportasi, hingga properti. Di sektor pertambangan, dia mengibarkan bendera OSO Group untuk membangun kilang minyak senilai US$ 4,8 miliar atau sekitar Rp 43,2 triliun di dekat Batam, Kepulauan Riau.

Kilang ini merupakan joint venture dengan perusahaan minyak Azerbaijan, yaitu SOCAR (State Oil Company of the Azerbaijani Republic). Targetnya, kilang minyak tersebut bisa memproduksi BBM sebesar 600 ribu barel per hari saat dioperasikan pada 2017.

Di bidang properti, OSO antara lain membangun hotel di Bali. Untuk transportasi, OSO menekuni bisnis jet pribadi. Dia memiliki beberapa koleksi jet pribadi yang, selain dipakai sendiri, disewakan. Dia yakin bisnis ini akan mendatangkan banyak keuntungan.



Simak Video "Hanura Tak Dapat Jatah Menteri, OSO: Kami Ikhlas, Itu Prerogatif Presiden"
[Gambas:Video 20detik]
(hek/eds)