Kisah Inspiratif

Kisah Bos GarudaFood: Pernah Dihina Miskin hingga Malu dengan Nama Sendiri

Tim detikcom - detikFinance
Rabu, 02 Jun 2021 07:00 WIB
Sudhamek
Foto: Trio Hamdani/detikFinance

Binis GarudaFood sebenarnya dikelola terlebih dahulu oleh sang Ayah. Ia pun tak pernah memikirkan bila suatu hari harus mengelola bisnis tersebut karena ia sendiri merupakan anak terakhir.

"Makanya saya ini sebenarnya ada di pimpinan ini it's not by design. Saya anak paling kecil. Saya nggak pernah dipersiapkan oleh ayah saya," kata Sudhamek saat berbincang dengan detikFinance.

Dia menyatakan tidak sempat mendapatkan transfer ilmu berbisnis dari sang ayah. Pasalnya setelah dia lulus kuliah, tak lama berselang sang ayah meninggal dunia.

"Saya lulus (kuliah), nggak lama ayah saya meninggal dua tahun kemudian. Jadi sebetulnya saya ini nggak pernah dipersiapkan oleh ayah saya apalagi jadi pemimpin," ujarnya.

Pria yang pada 2017 tercatat sebagai orang terkaya ke 38 di Indonesia versi Forbes ini, bercerita sang ayah pernah menawarkan membukakan bisnis untuk dirinya. Hal itu agar dia bisa mulai menjalankan usaha. Hanya saja kala itu Sudhamek menolak dan memilih kerja dengan orang lain.

"Dulu saya sama ayah saya mau dibukain bisnis di Rembang tapi saya nggak mau karena pemikiran saya 'sudah lah, saya itu sudah disekolahkan sampai dapat dua gelar, kok masih membebani orangtua lagi' ayah saya itu betapa lelahnya menyiapkan pekerjaan untuk anak-anaknya yang jumlahnya 11 itu kan," tuturnya.

Namun pada akhirnya Sudhamek terpanggil untuk meneruskan bisnis keluarga. Pada awalnya bisnis keluarga tersebut hanya memproduksi olahan kacang tanah. Namun di tangannya, bisnis tersebut berkembang pesat.

Di awal melanjutkan bisnis keluarga, perjalanan Sudhamek tidak mulus. Yang namanya melanjutkan bisnis keluarga ada saja tantangan yang harus dia hadapi. Apalagi Sudhamek posisinya sebagai anak terakhir.

Yang namanya melanjutkan bisnis keluarga ada saja tantangan yang harus dia hadapi. Apalagi Sudhamek posisinya sebagai anak bungsu.

"Perusahaan keluarga selalu ada masalah keluarga, masalah bisnis. Bagaimana tantangannya adalah dua hal ini bisa terjadi alignment (selaras) kan, bisa disinkronisasikan antara family isu dengan bisnis isu. Kebetulan saya ini anak paling kecil jadi memang bukan tugas yang mudah sekali buat saya untuk meng-address dua persoalan ini," lanjutnya.

"Kalau saya seandainya orangtua kan gampang, dia anak saya, saya bilang 'no' selesai sudah. Nah ini nggak bisa. Saya adalah youngest in the family. Itu salah satunya," sambung Sudhamek.

Namun menurutnya, meski terkadang ada perselisihan dalam keluarga, hal itu bisa diatasi dengan baik. Alhasil tidak ada persoalan berarti yang dapat mengancam kelangsungan bisnis GarudaFood.

"Perselisihan pasti ada tapi di keluarga saya itu seperti anak kecil, berantem abis itu rukun lagi. Itu adalah kekuatan dari ibu saya. Ibu saya selalu menanamkan nilai persatuan. Walaupun kadang kadang ada crash yang kadang tidak mudah, berat, tapi dengan nilai yang ditanamkan pelan pelan akhirnya bisa kita nomor duakan, akhirnya selesai dengan sendirinya," tambahnya.


(fdl/fdl)