Mengenang Enny Sri Hartati

Didik J Rachbini - detikFinance
Sabtu, 03 Jul 2021 00:44 WIB
Pengamat ekonomi INDEF Enny Sri Hartati
Foto: Enny Sri Hartati (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta -

Duka menghampiri para peneliti Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Kamis (1/7/2021). Ekonom/peneliti senior INDEF Enny Sri Hartati meninggal dunia setelah berjuang melawan COVID-19.

Kabar itu disampaikan salah satu ekonom INDEF Eko Listiyanto.

"Mbak Enny terinfeksi COVID-19, di RS baru 2 hari ini, sebelumnya isolasi mandiri di rumah," kata Eko kepada detikcom, Kamis (1/7/2021).

Kepergian Enny meninggalkan duka sekaligus kesan mendalam bagi para peneliti INDEF, seperti yang dirasakan Didik J Rachbini. Salah satu pendiri INDEF ini pun menceritakan perjalanan Enny muda meniti karir sebagai peneliti, menjadi ekonom terkenal dengan analisa tajam, hingga detik-detik terakhir sebelum kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Berikut kisahnya,

Enny panggilan akrabnya memang mengukuhkan karirnya sebagai ekonom sejak muda. Asal muasal semangatnya meniti karir dalam bidang ekonomi tersebut bermula sejak masa mahasiswa, yang menjadi redaksi majalah Eden, majalah mahasiswa kampus Universitas Diponegoro.

Melalui majalah mahasiswa Eden ini Enny mengenal INDEF dan setelah lulus menceburkan diri sebagai peneliti INDEF, menjadi direktur selama hampir satu dekade dan kemudian menjadi peneliti senior. Hampir seluruh karirnya memang diniatkan untuk menjadi ekonomi, yang kritis di dalam wadah lembaga pemikir INDEF.

Memang pada saat yang sama Enny menjadi dosen tetap di Universitas Trisakti. Tetapi kegiatan mengajarnya dihentikan demi untuk mengembangkan diri di INDEF bersama rekan-rekannya, sekaligus membangun INDEF itu sendiri menjadi lebih besar.

Pada akhir 1990-an ketika INDEF baru berdiri, Enny mengidolakan Faisal Basri, ekonom pendiri Indef yang sudah dikenal luas sebagai dosen UI dan sebagai ekonom nasional. Dari Semarang Enny datang ke Jakarta untuk menemui Faisal Basri, sekaligus melakukan wawancara untuk majalahnya.

INDEF baru berumur 2 tahun ketika itu dan pindah kantor dari Jalan Kartanegara, yang elit, ke jalan Wijayakarta, lokasi suatu perumahan di sekitar Jalan Tendean. Di kantor inilah Enny terus menerus berhubungan dengan INDEF, menekuni riset-riset bidang ekonomi, dan lambat laun dikenal secara nasional sebagai ekonom nasional karena banyak menyampaikan pemikirannya di ruang publik.

Sebagai ekonom, Enny menuliskan pemikirannya di berbagai media. Dan sebagai ekonom nasional, Enny dipilih oleh harian Kompas sebagai ekonom yang rutin menuliskan analisa-analisa tentgang perkembangan
ekonomi terkini. Hanya beberapa ekonom saja yang dipilih harian ini untuk menjadi kolumnis dan analis tetapnya di halaman depan. Hal itu merupakan penghargaan yang tinggi dan pengakuan terhadap kepakaran Enny.

Regenerasi INDEF sempat terhambat dari generasi pertama ke generasi berikutnya. Masalah hambatan regenerasi ini selalu terjadi di lembaga think tank bukan pemerintah. Sudah belasan atau bahkan puluhan lembaga think tank yang tutup tidak melakukan aktivitasnya karena gagal dalam menjalankan regenerasi. Tetapi INDEF terus berkembang semakin maju karena peranan Enny, yang memimpin INDEF selama satu dekade.

Enny adalah transmisi regenerasi di INDEF sampai INDEF sendiri berkembang seperti sekarang ini. Puluhan ekonom bergabung di INDEF melakukan kegiatan riset dan akademik, sembari memainkan peranan kritis terhadap kebijakan-kebijakan ekonomi. Banyak Enny-Enny yang lain akan menggantikan peranannya, yang datang dari generasi di bawahnya.

Detik-detik kepergian Enny Sri Hartati. Langsung klik halaman berikutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2