Sugiharto dan 'Obat Kumis'
Senin, 24 Apr 2006 16:55 WIB
Jakarta - Meneg BUMN Sugiharto kini tengah gencar menjual 'obat kumis'. Kata dia, kalau mau 'obat kumis' itu laku keras, maka si penjual harus punya kumis. Lho..lho.. ada apa?Eits..jangan salah dulu. "Obat kumis" yang dimaksud Sugiharto adalah sebuah perumpamaan untuk penerapan good corporate governance (GCG) alias tata kelola perusahaan yang baik.Menurut Sugiharto, agar BUMN-BUMN menerapkan GCG, maka pemerintah sebagai "induk semang" pun harus menerapkannya."Kalau mau jualan obat kumis ya mustahil laku kalau kita tidak berkumis. Kalau kita mau memasyarakatkan GCG kepada BUMN, kita juga harus punya kumis. Artinya, kita harus punya satu tingkat penerapan best practices GCG," ujar Sugiharto yang tidak berkumis ini.Hal tersebut disampaikan Sugiharto saat memberikan pidato di depan ratusan karyawan Kantor Kementerian BUMN dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di kantornya, Jalan Dr Wahidin, Jakarta, Senin (24/4/2006).Sugiharto pun menambahkan, penerapan GCG merupakan salah satu upaya BUMN-BUMN untuk memperbaiki citra negatif yang selama ini melekat. "Beberapa tahun ini publik menganggap BUMN sebagai sarang penyamun, sarang korupsi, moral hazard. Sejak awal saya tidak ragu membentuk tim khusus percepatan penerapan GCG di BUMN," tegasnya.Mantan Direktur Keuangan Medco ini memaparkan, GCG terdiri dari 5 unsur utama yaitu transparansi, akuntabilitas, responsibilitas, independen dan terbuka. "Itu menjadi panglima kita untuk membalikkan persepsi dari kemanterian BUMN yang tidak amanah atau kurang amanah menjadi lebih amanah," katanya. Sugiharto pun tak lupa menyisipkan dakwah dalam sambutannya. Menurut pria yang hobi mengenakan dasi merah ini, penerapan GCG sama halnya dengan penerapan akhlak nabi Muhammad yakni Sidik, Amanah, Fathonah dan Tabligh. "GCG itu senyawa dengan sifat Rasulullah. Hendaknya kita memiliki sifat akhlakul karimah dalam berinteraksi dengan sejawat, saudara, atasan dengan aset-aset yang kita miliki," jelasnya.Kagumi CinaSugiharto pun tak lupa memberikan 'oleh-oleh' hasil kunjungannya ke Cina pekan lalu. Pria berkacamata ini mengaku terkagum-kagum dengan kemajuan Cina dalam kurun waktu 10-12 tahun terakhir. Ia mencontohkan kota Shanghai yang alat transportasinya sudah modern. "Masya Allah, tahun 1990 mereka baru mulai MRT system, jalan bawah tanah. Hari ini mereka mengatakan sudah bisa mengangkut 2 juta penumpang oleh MRT. Belum lagi oleh moda transportasi lain. Dan ini dikelola BUMN-nya," paparnya.Di Cina, lanjut dia, ada ratusan BUMN yang mengelola perusahaan-perusahaan strategis. "Bayangkan pada tahun 2010 mereka akan membangun sepanjang 510 kilometer panjang jalan untuk subway tok di Shanghai. Belum termasuk kota lainnya," tukasnya.Menurut Sugiharto, Indonesia perlu belajar dari negara Cina tentang hal ini karena masyarakat Cina bisa menghemat energi dan rakyatnya mudah berpindah tempat karena tak ada kemacetan. "Dan itu berarti pengelola kebijakannya sudah benar. Jadi tidak ada salahnya kita harus berguru kepada mereka," pungkasnya.
(qom/)











































