Sigit Pramono Tak Mau Terkenal

Sigit Pramono Tak Mau Terkenal

- detikFinance
Rabu, 26 Apr 2006 13:43 WIB
Jakarta - Popularitas bagi sebagian orang adalah segala-galanya. Tapi tidak untuk Dirut BNI Sigit Pramono. Ia justru tak ingin terkenal. Lho kok?Namun terkenal yang dimaksud Sigit adalah karena terbelit kasus hukum. Maklum saja, akhir-akhir ini banyak koleganya yang harus berurusan dengan pihak berwenang karena kesandung kasus kredit macet."Kita takut juga. Siapa sih yang mau terkenal, tapi terkenal diperiksa KPK," curhat Sigit di depan peserta diskusi bertajuk "Ke Mana Perbankan 2006 Dibawa?" di Hotel Niko, Jalan MH Thamrin, Jakarta, Rabu (26/4/2006).Perasaan Sigit itu tampaknya sudah lama terpendam. Di hadapan para peserta diskusi, Sigit menegaskan dirinya tak ingin membacakan teks yang sudah dibuatnya. Namun Sigit justru curhat atas semua permasalahan yang membelit bank-bank, khususnya bank BUMN.Sigit mengaku prihatin dengan banyaknya bankir yang kini harus berurusan dengan polisi akibat kasus kredit bermasalah yang dinilai tidak sesuai ketentuan dan dikategorikan sebagai korupsi."Sekarang ini banyak bankir-bankir yang jalan-jalan, jalan ke Gedung Bundar, jalan ke kejaksaan, kepolisian," ujarnya prihatin.Menurut mantan Dirut BII ini, ketika seorang pejabat bank diperiksa, maka banyak sekali waktu yang terbuang sia-sia. "Ini yang terjadi pada kami," cetusnya.Ia pun berseloroh soal pemeriksaan versi Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). "Kalau KPK jarang memanggil, tahu-tahu ditangkap. Jadi nggak buang waktu banyak," sindir Sigit.Meski prihatin, namun Sigit menegaskan, pernyataannya itu sama sekali tidak dimaksudkan untuk mengecilkan upaya hukum. "Memang upaya itu memberikan dampak politik yang banyak, sehingga kami harus lebih berhati-hati dan menjaga tata kelola perusahaan dengan baik," tegasnya.Tak lupa, Sigit pun berpesan kepada aparat penegak hukum agar menjalin koordinasi yang lebih rapi. "Jangan sampai di luar proporsinya, serta harus memperhatikan UU lain yang terkait kedudukan bank sebagai lembaga kepercayaan," pesannya.Nah, khusus soal tingginya kredit bermasalah alias NPL, terutama di BNI dan Bank Mandiri, Sigit punya argumen tersendiri. Menurut pria berkacamata ini, tingginya NPL di BNI dan Bank Mandiri karena kedua bank BUMN top itu banyak menyalurkan kredit di sektor korporasi.Dan ketika kondisi ekonomi morat-marit akibat tingginya harga minyak, naiknya tarif, maka korporasi menjadi oleng dan kreditnya pun macet. Hal itulah yang menyebabkan tingginya NPL di BNI dan Bank Mandiri.Tak lupa, Sigit juga menyuarakan 'diskriminasi' yang diterima oleh bank-bank BUMN. "Saat ini bank kita tak pernah punya kewenangan untuk haircut pokok. Berbeda dengan bank swasta asing yang dapat melakukan hal itu," ujarnya."Kita ini hanya melakukan restrukturisasi atau pola-pola sederhana R3, yakni restructuring, recondition dan reschedulling. Saya katakan ini restrukturisasi yang setengah hati," pungkasnya. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads