Mari Pangestu Rikuh Jadi Wanita

Mari Pangestu Rikuh Jadi Wanita

- detikFinance
Senin, 08 Mei 2006 13:28 WIB
Mari Pangestu Rikuh Jadi Wanita
Jakarta - Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu mengaku rikuh menjadi seorang wanita. Menyesali kodrat? Bukan. Mari mengaku rikuh menjadi wanita saat berada di negara Arab Saudi. Oalah..!"Memang ada kendala di kultur. Jadi kalau suatu produk UKM di sana dipasarkan oleh ibu-ibu, akan sulit. Ow, itu benar sekali. Saya sebagai wanita waktu di Saudi Arabia, rasanya rikuh banget. Hanya Saudi yang sangat stricht. Negara lain tidak seperti itu," ungkap Mari.Cerita tersebut merupakan sebagian 'oleh-oleh' yang dibagikan Mari kepada wartawan dalam sebuah perbicangan yang berlangsung di kantornya, Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Jumat (5/5/2006) pekan lalu.Mari menambahkan, dalam setiap pameran, kaum ibu biasanya menjadi ujung tombak pemasarannya. Namun tampaknya jurus itu tidak bisa diterapkan untuk pemasaran di Timur Tengah. Pasalnya, jika pemasarannya dilakukan oleh wanita, maka jalan penjualan tidaklah mulus.Untuk itu, Mari mengaku akan menerapkan strategi pemasaran khusus untuk pasar Timur Tengah, khususnya Arab Saudi. Rencananya, Depdag juga akan membentuk Tim Spesialisasi Timteng, yang salah satu anggotanya adalah utusan Indonesia untuk Organisasi Konferensi Islam (OKI) yakni Alwi Shihab. Anggota tim lainnya adalah dari Depdag, BKPM dan Departemen Pariwisata. "Mereka sangat menghargai special envoy kita, karena mereka merasa kalau ada special envoy mereka bisa bertanya berbagai hal d Indonesia," jelas Mari yang tampak matching dengan aksesoris dan baju berwarna hijau.Oleh-oleh Mari lainnya adalah berupa ketakjubannya melihat Jabbal Ali, pohon buatan di Dubai, hingga bertemu dengan salah satu orang terkaya di dunia yakni Pangeran Al-Waleed bin Talal. "Saya di sana ketemu lho dengan miliuner Arab Saudi, pangeran, orang nomor enam atau sebelas terkaya di dunia, dan pemilik 10 persen dari Citigroup, dan salah satu keluarga kerajaan Arab," ujar Mari dengan bangga.Menurut Mari, pangeran kaya raya itu sudah menyatakan minatnya untuk berinvestasi di sektor energi. "Itu yang perlu kita siapkan," tambahnya.Istri pengurus Kadin, Adi Harsono, itu juga tak bisa menyembunyikan kekagumannya atas sebuah kawasan ekonomi khusus di Dubai yakni Jabbal Ali. Dan melihat sukses dan besarnya Jabbal Ali, Indonesia berniat menjadikan Dubai sebagai titik masuk ke pasar Timur Tengah. Khusus untuk Abu Dhabi, Mari mengaku kagum dengan pohon-pohon palsu seharga US$ 20 ribu yang mereka tanam. "Padahal di sana itu semua padang pasir. Penghijauan di sana semua artificial. Di bawah tanahnya ada selang untuk air. Bahkan saya diceritakan kalau di Dubai nabrak pohon saat nyetir mobil, didenda US$ 20 ribu, karena membuat pohon itu harganya US$ 20 ribu," ujar Mari seraya tertawa lebar. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads