Kisah Sang Entrepreneur
DO dan Penjara Berujung Sukses
Kamis, 01 Jun 2006 14:25 WIB
Jakarta - Nama Susi Pudjiastuti memang tak terlalu terkenal. Namun kisah suksesnya patut kita acungi jempol. Meski drop out (DO) dan sempat mencicipi penjara, Susi berhasil menangguk sukses dan terpilih menjadi Entrepreneur of The Year 2005 versi Ernst & Young.Wanita kelahiran tahun 1965 ini pun dengan gamblang menuturkan kisah hidupnya yang cukup berliku-liku. Susi yang cukup pandai saat duduk di bangku sekolah tiba-tiba memutuskan untuk berhenti sekolah pada tahun 1983. Ketika itu Susi duduk di kelas 2 SMU dan berumur 17 tahun.Keluarnya Susi dari sekolah itu bukannya tanpa alasan. Ia mengaku ada dua alasan mendasar yang memutuskan ia berhenti sekolah yakni alasan kesehatan. Alasan kedua, Susi mengaku tidak suka sekolah."SMP saya ranking 1 terus. Tapi pas SMA saya malas sekolah. Saya ngikut-ngikut kegiatan politik. Waktu itu juga pernah buat kaos golput," tuturnya di sela-sela acara penjelasan program Ernst & Young Entrepreneur of The Year di Graha Niaga, Jakarta, Kamis (1/6/2006).Gara-gara membut kaos golput itu, Susi pun harus mencicipi dinginnya penjara selama sehari. Maklum saja, periode tahun 1983-1984 masih dikuasai oleh Orde Baru dan sama sekali tidak diperkenankan adanya golput-golputan.Setelah mencicipi penjara, Susi pun mulai berpikir untuk menjalankan usaha yang serius. "SMA nggak lulus, mau kerja apa, karena daerah Pangandaran banyak hasil laut, ya jualan ikan saja," tutur Susi yang tampak trendi di usianya yang sudah memasuki kepala 4 ini.Di awal-awal usahanya, Susi berjualan ikan dengan bakul. Kegiatan usaha itu digeluti Susi selama lebih dari 13 tahun. Dalam kurun waktu itu, Susi mengumpulkan uangnya.Dan akhirnya, setelah modalnya cukup, Susi pun mendirikan pabrik pengolahan ikan di Pangandaran, Jawa Barat pada tahun 1995. Dengan kerja kerasnya, Susi berhasil mengembangkan perusahaannya yang kini memiliki 500 karyawan.Pabrik milik Susi kini mengelola hasil laut baik ikan maupun udang dengan fokus pada produk lobster. Produksinya pun luar biasa, mencapai 200 ton per bulan dan mayoritas diekspor ke Jepang, AS dan Eropa.Selain pabrik pengolahan ikan, wanita yang bersuamikan orang Jerman ini juga memiliki perusahaan penerbangan "Susi Air". Perusahaan tersebut memiliki 3 pesawat kecil seperti Cessna dengan berpenumpang 14 orang.Susi yang hobi membaca buku filsafat, sastra dan Kho Ping Ho ini mengaku punya prinsip dalam menjalankan usahanya. Karena berprinsip tidak mau serakah mengambil hasil sumber daya alam, Susi selalu minta pemda mengeluarkan Perda Ramah Lingkungan."Karena sumber daya alam kita tidak bisa ambil semuanya. Kalau kita serakah, bisnis kita tidak akan berjalan lama," ujar wanita yang memiliki 3 anak dan 1 cucu.Gara-gara minta Perda Ramah Lingkungan, wanita yang rambutnya di-highlight coklat ini mengaku pernah dikatain orang gila. Tapi Susi tetap tak gentar dan selalu meminta adanya perda itu di setiap tempat investasinya.Di balik kisah suksesnya, Susi menyimpan sebuah keprihatinan soal kredit. Ia menilai, bank-bank tetap tidak bersedia memberi kredit untuk bisnis hasil laut karena dipandang risikonya besar. Gara-gara itulah, Susi sempat kelimpungan mendapat kredit, sebelum akhirnya mendapat kucuran dana dari Bank Rakyat Indonesia (BRI).
(qom/)











































