ADVERTISEMENT

Kisah Inspiratif

Pinjam Modal Rp 8 Juta dari Nenek, Kini Punya Gerai Es Krim Beromzet Rp 40 T

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Selasa, 30 Agu 2022 21:34 WIB
Es Krim viral/Foodtalks
Foto: Zhang Hongchao/Inf News
Jakarta -

Merek es krim Mixue kini gerainya menjamur di banyak wilayah di Indonesia. Perusahaan es krim asal China ini menjadi viral pasca 25 tahun berdiri dengan 20.000 gerai waralaba tersebar di Asia. Siapa sangka, pendirinya ini dulu hanya seorang mahasiswa yang bermodalkan uang dari neneknya.

Ialah Zhang Hongchao. Hongchao mendirikan Muxue Ice Cream & Tea pada 1997 saat masih menjadi mahasiswa di tahun ke empat. Ia memulai bisnisnya itu dengan menjual es serut di sebuah kota kecil di Zhengzhou.

Dilansir melalui Foodtalk dan Pandaily, sebelum membuka usahanya, ia sempat bekerja paruh waktu di sebuah toko minuman dingin, yang khusus membuat es serut. Dari sanalah, ia menemukan peluang bisnis tersebut.

Bermodalkan keberanian dan uang 4.000 yuan atau setara Rp 8 juta (kurs Rp 2.000) dari neneknya, ia mulai mendirikan kios es serut. Toko bernama "es serut aliran dingin" ini adalah pendahulu Mixue Bingcheng, perjalanan kewirausahaan Zhang Hongchao pun dimulai.

Modal awal yang terbatas membuat peralatan tokonya juga sangat sederhana. Bahkan mesin untuk memproduksi es serutnya pun dirakit oleh Hongchao dengan membeli motor, meja putar, dan Pemotong. Produk utama toko ini juga terbatas, hanya ada es serut, es krim, dan smoothie. Setelah bisnisnya berangsur-angsur berkembang, ia mulai menjual teh susu di tokonya.

Dengan kegigihannya, Hongchao dapat memperoleh lebih dari 100 yuan (Rp 200 ribu) sehari. Namun ia mulai menemukan masalah, yakni produknya yang terpengaruh musim. Karena itulah, ia gagal dan toko pertamanya ini terpaksa ditutup.

Hongchao tidak menyerah seketika. Dengan keberaniannya, di tahun 1999 ia kembali mendirikan toko es serut berikutnya dan mengganti nama menjadi Mixue Bingcheng (MXBC). Berbagai tantangan pun ia hadapi selama bertahun-tahun, hingga barulah di tahun 2006 ia akhirnya menemukan tempatnya di pasaran.

Di tahun itu, sejenis es krim dari Jepang berbentuk seperti obor mulai muncul di Zhengzhou, bertepatan dengan Olimpiade Beijing 2008. Es krim itu yang kita kenal dengan nama es krim cone. Akibatnya, harga es krim, yang semula satu atau dua yuan, telah meningkat lima atau sepuluh kali lipat.

Dari sanalah, ia menemukan peluang bisnis dan berhasil menciptakan formula es krim yang murah. Ia pun berhasil mengeluarkan produk es krim seharga 2 yuan atau setara Rp 4.000, di saat toko lain menjual hingga 10 yuan (Rp 20.000). Bisnisnya pun berkembang pesat dan digandrungi banyak peminat kala itu.

Pada tahun 2007, ambisi Hongchao membawanya untuk membuka waralaba. Akhirnya di tahun itu, lusinan toko dibuka dengan cepat di Provinsi Henan, tempat kantor pusat berada. Bahkan satu tahun kemudian, jumlahnya mencapai 180 gerai. Dan pada tahun 2008 itu, Mixue Bingcheng secara resmi menjadi sebuah perusahaan.

Mixue Bingcheng diam-diam menjadi merek bubble tea tunggal terlaris di China, dengan pendapatan tahunan 6,5 miliar yuan (Rp 13 triliun) dalam setahun. DI 2018, Hongchao akhirnya melakukan ekspansi besar-besaran ke berbagai negara seperti Vietnam Singapura, Malaysia, hingga Indonesia.

Pada awal 2021, bisnis ini diperkirakan berhasil meraih pendapatan sebanyak 20 miliar yuan atau setara Rp 40 triliun, mengalahkan merek bubble tea premium lainnya.



Simak Video "Moorissa Tjokro: Berpikir Kritis Jadi Keterampilan yang Wajib Diasah"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT