Falsafah Wayang Presdir Astra Otopart

Falsafah Wayang Presdir Astra Otopart

- detikFinance
Rabu, 05 Jul 2006 10:52 WIB
Jakarta - Di zaman modern nan canggih ini, falsafah wayang terbukti masih manjur. Presdir Astra Otopart Budi S Pranoto adalah salah satu yang menggunakan falsafah tersebut. Hasilnya? Tentu saja oke. Falsafah wayang itu terbukti bisa membuat perusahaan yang berkode AUTO menjadi pemimpin di antara industri sejenis.Budi yang bergabung di keluarga Astra sejak tahun 1973 ini memang pria berdarah Jawa tulen. Pria yang terkenal supel dan humoris khususnya di kalangan wartawan ini mengaku selalu menerapkan falsafah wayang dalam memimpin perusahaannya."Di pewayangan, kalau perang, Arjunanya yang melawan duluan. Bukan prajuritnya. Astra seperti itu. Pemimpin harus tahu proses dari bawah sehingga tahu detil permasalahan," ujar Budi dalam perbincangannya dengan detikcom di sela-sela KADIN roundtable discussion, Selasa (4/6/2006).Budi mengaku falsafah ini paling cocok diterapkan di negara berkembang. Para pemimpinnya harus berada di garis depan, lalu anak buah diminta mengikuti."Jangan anak buah saja yang belajar, tapi pemimpin mesti terjun ke lapangan dahulu, baru diikuti anak buah," ujar pria yang telah mengabdi selama 33 tahun di lingkungan Astra ini.Pria yang rambutnya sudah memutih ini pun mengisahkan perjalanan karirnya di Astra hingga memimpin salah satu unit yang 'gemuk' ini. "Saya mulai dari nol. Awalnya kerja di perusahaan manufaktur, elektronik lalu menjadi sales sirup yang menjualnya masih door to door," kenangnya."Perusahaan itu buka cabang di Jl Veteran 3 Jakarta. Di seberangnya ada perusahaan yang membutuhkan sales sepeda motor Honda. Lalu saya melamar. Pada saat itu gaji saya masih berkisar Rp 34.500, tapi saya nikmatin abis bareng SPG," ujarnya sambil terkekeh.Setelah setahun jadi sales, Budi pun kemudian diangkat menjadi salah satu kepala bagian. "Saya di Astra Honda Motor selama 17 tahun," ungkap ayah dari tiga putri ini.Budi kemudian pindah ke produk sparepart dan bagian-bagian lainnya di Astra. Sampai akhirnya pada tahun 1999, Budi diangkat menjadi Dirut Astra Otoparts. Nah, untuk urusan inspirator agar mau bekerja keras, jebolan Undip yang lahir di Semarang ini memilih lebih senang diakui sebagai orang yang berasal dari desa kecil bernama Lasem di Rembang, Jawa Tengah. Dengan mengaku dari desa itu, Budi mengaku lebih terinspirasi bekerja keras. "Saya berasal dari kampung, jadi kalau mau sukses harus tekun," tambahnya.Obrolan panjang dengan Budi pun tak hanya berkutat seputar dunia bisnis. Selain fasih bicara otomotif, Budi tak akan menampik kalau diajak bicara olahraga, khususnya bola dan tenis meja.Untuk urusan Piala Dunia, Budi menjagokan Prancis menjadi juara Piala Dunia. "Kenapa Prancis, karena kalau Jerman mainnya terlalu scientific," candanya.Tak lupa, Budi pun memberikan kritikannya kepada Tim Samba, Brasil. Menurut dia, lewat permainan bola, orang bisa banyak belajar bagaimana susahnya kerja tim. "Contohnya Brasil. Pemainnya per individu bagus, tapi tidak dalam tim," kritiknya. Budi yang gibol ini mengaku pernah cedera saat menjadi kiper. Merasa kapok, Budi kini beralih ke olahraga tenis meja dan kini aktif dalam kepengurusan Persatuan Tenis Meja seluruh Indonesia. (qom/)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads