Penyesalan Miranda Soal Menjahit
Rabu, 05 Jul 2006 13:45 WIB
Jakarta - Pelajaran menjahit sering diremehkan. Namun wanita sekelas Miranda S Goeltom ternyata sangat menyesal telah meremehkan pelajaran tersebut. Sebuah pelajaran pun dipetik Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) itu."Waktu saya SD di Sumbangsih Setia Budi Raya, itu dulu ada pelajaran keterampilan seperti menjahit untuk wanita dan pekerjaan tangan lainnya. Dan saya tidak suka menjahit," cerita Miranda.Wanita yang gemar gonta-ganti cat rambut ini mengaku saat sekolah hanya menyukai pelajaran-pelajaran 'elit' seperti berhitung, pengetahuan umum dll ketimbang keterampilan semacam menjahit. "Dan kebetulan saya juga juara kelas tersebut," ujarnya bangga.Namun setelah duduk di bangku SMA, Miranda mengaku apa yang dilakukannya saat masih SD tersebut salah besar. "Saya menyesal," aku Miranda.Penyesalan itu berkaitan dengan keinginannya memiliki banyak baju, sementara uang yang diberikan oleh orangtuanya tidak mendukung. "Saya tidak punya uang, tidak bisa menjahit. Tapi pengen punya baju yang bagus," tambahnya.Untuk menebus rasa bersalahnya, Miranda pun akhirnya mengikuti les menjahit. Akhirnya, Miranda pun bisa memperbanyak koleksi bajunya meski duitnya pas-pasan."Artinya, kita jangan pernah meremehkan mata pelajaran atau hanya menyukai satu mata pelajaran saja. Tapi harus semuanya," pesan Miranda kepada para siswa SMP 273 Kampung Bali, Tanah Abang, Jakarta, Rabu (5/7/2006).Miranda yang mengenakan blazer hitam mendatangi sekolah tersebut dalam rangka Ulang Tahun ke-53 BI.Selain pesan agar tidak meremehkan pelajaran keterampilan, pengajar di FE UI ini juga berpesan agar para siswa sungguh-sungguh rajin dan konsisten untuk terus belajar.Bahkan Miranda menganalogikan konsistensi dan kesungguhan itu pada pertandingan semifinal Piala Dunia antara Italia dengan Jerman. Kedua hal itulah yang akhirnya mengantarkan pasukan Azzurri mengalahkan der Panzer."Karena Italia itu memiliki determinasi atau kesungguhan untuk menyerang Jerman terus-menerus, sehingga Jerman hanya bisa bertahan dan akhirnya Italia menang. Itulah yang harus kita contoh. Rajin dan konsisten," pesan Miranda.Lebih jauh Miranda juga mengungkapkan soal rendahnya tingkat indeks pembangunan manusia di Indonesia yang kini menduduki peringkat 110 dari 179 negara."Tidak ada perbaikan selama 4 tahun belakangan. Malaysia saja indeksnya berada di urutan 61. Thailand 73, Filipina 84, Cina 85," tandas Miranda prihatin.
(qom/)











































