Pemilik Merek Pakaian Polo, Dulunya Miskin Bahkan Sampai Tak Bisa Beli Baju

ADVERTISEMENT

Kisah Inspiratif

Pemilik Merek Pakaian Polo, Dulunya Miskin Bahkan Sampai Tak Bisa Beli Baju

Achmad Dwi Afriyadi - detikFinance
Senin, 26 Sep 2022 07:00 WIB
desainer ralph lauren
Ralph Lauren/Foto: Getty Images
Jakarta -

Siapa yang tak kenal merek pakaian Polo Ralph Lauren. Merek pakaian ini sudah malang melintang di dunia fashion dunia.

Tapi pasti tak banyak yang tahu siapa pendirinya dan bagaimana latar belakangnya. Imigran Yahudi bernama Ralph Lipshitz adalah nama pendiri merek ini.

Ralph lahir dari keluarga miskin. Bahkan, dia sampai-sampai tak bisa membeli baju.

Ralph menghabiskan masa remajanya di Bronx bersama orang tuanya. Kemiskinan membelenggunya kala itu. Ia pun mencoba menutupinya dengan pergi ke bioskop dan berimajiansi hidup seperti dalam film.

Sebelum menjadi kaya, ia sempat mencoba sejumlah profesi. Ia pernah menjadi seorang tentara dan petugas toko pakaian Brooks Brother di New York.

Inspirasi datang saat ia mendatangani pertandingan olahraga polo. Ia pun berencana membuat usaha yakni mengembangkan merek kelas atas.

"Kami dihadapkan pada hal yang luar biasa. Perak, kulit, kuda, rambut pirang tinggi dengan topi besar, dan masyarakat kelas atas yang nggak pernah terpikiran oleh kita," kata salah satu teman Polo, Warren Helstein dikutip dari Insider 29 Agustus 2018 lalu.

Hanya berbekal ijazah diploma dan sedikit pengalaman bisnis, ia memutuskan untuk menjalankan perusahaannya sendiri. Ia memahami risiko yang diambilnya itu.

Rancangan desain yang ditawarkan Ralph kala itu benar-benar berbeda. Keputusannya membuat kerah warna-warni melawan arus kala itu.

Berkat desain tersebut, dalam jangka waktu setahun Ralph berhasil meraup banyak pelanggan hingga mampu mendapatkan US$ 500.000 dari penjualannya. Kunci sukses lainnya, Ralph juga tidak berhenti mengembangkan sayap bisnisnya.

"Ralph tidak pernah duduk tenang dalam setiap menitnya (dalam mengembangkan usaha). Anda mungkin bisa menikmati momen, tetapi Anda harus membiarkan waktu itu berlalu dan tidak bisa mengulangnya," kata anak didik Ralph, John Varvatos.

Kemudian, pada tahun 1997 Ralph melakukan penawaran perdana saham ke publik atau initial public offering (IPO) perusahaan. Sebagai CEO, ia masih memegang kendali dengan kepemilikan saham sebesar 81,5%.

Ralph pun kini menikmati hasil jerih payahnya. Forbes mencatat, total kekayaannya mencapai US$ 7 miliar atau setara dengan Rp 98 triliun (kurs Rp 14.000).



Simak Video "Moorissa Tjokro: Berpikir Kritis Jadi Keterampilan yang Wajib Diasah"
[Gambas:Video 20detik]
(acd/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT