Dirut Bulog Rela 'Dijemur' Demi Pelajaran Berharga
Sabtu, 24 Mar 2007 14:49 WIB
Karawang - Sabtu siang ini sangat terik. Ruang ber-AC tentunya sangat lah nikmat. Tapi Dirut Bulog Mustafa Abubakar memilih untuk meninggalkan kenikmatan itu demi sebuah pelajaran berharga.Ya, dihari ketiganya menjabat sebagai Dirut Bulog, Mustafa menyempatkan diri berpanas-panas ria demi belajar mengenai perberasan.Mustafa terjun ke lapangan melihat cara kerja unit pengolahan gabah beras (UPGB) dan mengecek gudang Bulog baru di kecamatan Jatisari, Karawang.Mustafa yang didampingi istri hadir tanpa mobil mewah layaknya pejabat negara lainnya. Mustafa yang mengenakan safari abu-abu datang dengan menggunakan VW Caravella warna hijau B 7203 EQ, yang biasanya digunakan wartawan Bulog. "Ini untuk menambah pengetahuan saya. Saya harus tahu cara kerja keseluruhan," ujar Mustafa kepada wartawan yang mendampinginya, Sabtu (24/3/2007) siang di Karawang, Jawa Barat.Mustafa pun berkeliling UPGB dengan ditemani para staf Bulog dan para jurnalis. Dengan halus, Mustafa menampik tawaran staf Bulog agar mengendarai mobil saat mengelilingi UPGB yang lumayan bikin pegel itu."Saya jalan saja," ujar Mustafa dengan ramah kepada staf Bulog yang mendampinginya.Mantan pejabat Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam ini pun mengecek penyimpanan beras curah atau dinamakan Silo. Mustafa yang terlihat sangat antusias pun melanjutkan perjalanannya untuk meninjau Rice Processor Plant untuk mengecek kualitas beras yang ada di gudang. Mustafa juga menyempatkan diri untuk berdialog dengan para petani yang berada disekitar Karawang. Selanjutnya, Mustafa mendatangi penggilangan mitra kerja Bulog milik Haji Itoy untuk membandingkan cara kerja penggilingan swasta dan Bulog. "Saya baru dilantik Kamis, pengetahuan saya masih remang-remang. Saya harap masalah perberasan sebisa mungkin bisa ditangani," ujar Mustafa.Usai puas berkeliling-keliling ditengah teriknya matahari, Mustafa merasa dirinya sudah cukup puas dan memiliki gambaran tentang Bulog."Saya sudah ada gambaran in out pengolahan gabah kering giling menjadi beras untuk dikonsumsi," ujarnya. Mustafa menambahkan, kerjasama dengan Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) akan diteruskan, sementara pola kerjasama yang selama ini berlangsung akan dievaluasi. "Prinsipnya sekecil mungkin impor. Produksi dalam negeri penyerapannya akan kita utamakan, baru defisitnya ktia tutupi dengan impor," tandasnya.
(qom/qom)











































