Agus Martowardojo Emoh dengan Kantor Mewah
Senin, 30 Apr 2007 14:25 WIB
Jakarta - Disentil Wapres Jusuf Kalla soal gedung perkantoran bank BUMN yang mewah, Dirut Bank Mandiri Agus Martowardojo langsung meradang.Agus menjamin ruang kantornya yang berukuran 4X4 meter jauh dari kesan glamour. Tidak seperti dugaan Wapres yang sebesar lapangan bola. "Kantor direksi Bank Mandiri sekarang tidak seperti dulu, ruang direksi cuma 4x4 meter, bisa dilihat dari luar oleh sekretaris dan pegawai lewat kaca," kata Agus disela-sela acara acara diskusi konsolidasi perbankan dan penyerahan Banking Eficiency Award di Mario's Place Menteng, Jakarta, Senin (30/4/2007) Agus justru menilai, perkataan Wapres itu hanya diterjemahkan setengah-setengah oleh media massa sehingga beritanya terkesan berlebihan.Agus mencoba meluruskan kritik Wapres mengenai kurang efisiennya kinerja perbankan Indonesia termasuk Bank Mandiri."Jadi itu media kemarin memberitakannya cuma setengah saja dari omongan Wapres. Memang dibilang bank tidak efisien tapi sebenarnya intinya dia ingin bicara bahwa perbankan yang sehat harus dapat berperan serta di dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia," tutur Agus.Pria kelahiran Amsterdam 24 Januari 1956 ini mau tak mau kini harus makin terbiasa dengan gaya pemberitaan media yang mengambil perkataan paling menarik dari pesohor yang menjadi nara sumber.Dalam pidato pembukaan Kongres I Ikatan Bankir Indonesia (IBI) 27 April lalu, Wapres mengkritik fasilitas mewah yang diterima para dirut bank-bank di Indonesia padahal kinerja para dirut tersebut untuk mendorong bergeraknya sektor riil masih kurang."Kantor dirut Bank Mandiri seperti lapangan bola (luasnya) bagi saya. Yang sama dengan kantor presiden dan wapres hanya toiletnya saja. Belum lagi kalau bicara soal gaji," kata Wapres waktu itu.Wapres kemudian mencontohkan kesederhanaan kantor-kantor bank di Malaysia. Meski hanya berkantor di rumah-rumah toko (ruko) tapi bank-bank tersebut memberikan pelayanan profesional dan benar-benar menyalurkan kreditnya untuk menggerakkan UMKM.Sebaliknya kantor bank nasional senantiasa mewah. Tetapi menurut Wapres dalam prakteknya justru lebih mirip dengan toko kelontong yang lebih memilih menyalurkan kredit ke para teman dan sanak saudara."Bank Malaysia pakai kayu, kita sudah pakai marmer dan lukisan mahal. Kita jor-joran, boros luar biasa," imbuhnya.Wapres mengingatkan sikap boros perbankan dengan lebih mementingkan penampilan mewah dibanding menggerakkan sektor riil merupakan sumber terjadinya krisis moneter 1998. Akibatnya sampai sekarang rakyat yang segala menanggung akibatnya.
(ir/ddn)











































