Sofyan Djalil Pulang ke BUMN
Senin, 07 Mei 2007 15:26 WIB
Jakarta - "Kembali ke BUMN!". Itulah jalur karir yang dijalani oleh Sofyan Djalil ketika harus menjabat sebagai Menneg BUMN. Setelah malang-melintang di dunia korporasi pelat merah, Sofyan kini muncul lagi di kawasan Lapangan Banteng.Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengangkat Sofyan menjadi Menneg BUMN menggantikan Sugiharto yang menguasai otoritas di perusahaan BUMN selama dua setengah tahun. Sofyan meninggalkan kursi lamanya sebagai Menkominfo yang kini diisi oleh Muhammad Nuh, mantan rektor ITS.Di kalangan perusahaan BUMN, Sofyan sudah tidak asing lagi. Namanya sempat mengemuka tatkala Tanri Abeng yang kala itu menjabat Menneg BUMN, mengangkatnya sebagai Asisten Kepala Badan Pembina BUMN atau Staf Ahli Menteri Negara BUMN, bidang Komunikasi dan Pengembangan SDM pada Juni 1998.Pria kelahiran Perlak, Nangroe Aceh Darusalam, 23 September 1953 ini juga terlibat dalam pembuatan cetak biru (blue print) perusahaan BUMN. Cetak biru BUMN beberapa sudah dijalankan oleh pengganti Tanri yaitu Laksamana Sukardi dan Sugiharto meski belum tuntas dilakukan.Tidak heran jika akhirnya Sofyan menjadi kandidat kuat di pos ini ketika SBY melakukan reshuffle terbatas untuk kedua kalinya. Mantan aktivis Pelajar Islam Indonesia (PII) ini dinilai SBY sebagai the right man in the right place di Kementerian Negara BUMN. Pengalamannya di BUMN pun dinilai cukup mumpuni. Pada masa jabatannya sebagai Staf Ahli Menteri Negara BUMN Sofyan dinilai sebagai dinamisator kementerian BUMN mendampingi Tanri Abeng yang berasal dari kalangan profesional.Selepas menjadi Staf Ahli Menneg BUMN, Sofjan pernah ditugaskan menjadi komisaris di BUMN PT Pelindo III (1998-Mei 2001) dan PT PLN (1999-Juni 2002). Selain itu, dipercayakan juga tugas Komisaris Utama PT Pupuk Iskandar Muda (1999-Juli 2004), dan komisaris independen PT Kimia Farma Tbk (sejak Mei 2003)Setelah kembali duduk di kantor lamanya, mampukah sarjana hukum lulusan UI tahun 1984 ini merampungkan cita-cita cetak biru BUMN yang akan membuat perusahaan lebih efisien, efektif dan punya daya bersaing di tingkat internasional. Pelaku pasar sendiri berharap Sofyan tidak berlama-lama mengantarkan perusahaan BUMN untuk melantai di bursa saham. Apalagi ketika Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang melejit di atas 2.000-an dianggap sebagai waktu yang tepat untuk perusahaan BUMN go public.
(hdi/ir)











































