Miranda Kagumi David Beckham

Miranda Kagumi David Beckham

- detikFinance
Senin, 29 Okt 2007 14:57 WIB
Miranda Kagumi David Beckham
Yogyakarta - Ganteng, kaya, jago bola. Siapa tak naksir David Beckham. Salah satu yang ikut mengagumi pemain sepakbola dari klub LA Galaxy itu adalah Deputi Gubernur BI Miranda S. Goeltom.Tentu saja Miranda tak sekedar mengagumi paras ganteng Beckham. Miranda mengagumi kemampuan suami Victoria Adams itu, yang dianggapnya memang pantas dihargai hingga jutaan dolar AS.Sebagai seorang gibol alias penggila bola, Miranda berkisah dirinya selalu menonton berbagai liga yang tayang ditelevisi. Nonton hingga larut malam pun dilakoninya demi sepakbola."Sepak bola liga Inggris tadi malam, saya juga sering nonton sampai jam 1 pagi seperti halnya para peserta yang sampai menguap-uap saat seminar ini," kata dia disambut tawa hadirin.Hal itu diungkapkan oleh Miranda saat menjadi pembicara di Gedung Magister Manajemen (MM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Yogyakarta, Senin (29/10/2007).Industri sepakbola, kata Miranda, bukan hanya tergantung pada hasil penjualan tiket pertandingan saja atau dari sponsor, tapi juga tergantung pada intangible asset dari pemain-pemainnya. Tak heran, jual beli pemain adalah basis industri sepak bola sekarang. Sehingga sangatlah wajar bila pemain sekelas David Beckham itu bisa dihargai hingga US$ 250 juta. "Itu not because dia adalah anggota tim apa, tapi berhubung dia adalah dia dengan segala kemampuannya," ujar Miranda.Ia pun lantas menghubungkannya dengan ekonomi berbasis pengetahuan yang dinilainya sebagai sesuatu yang sangat dibutuhkan selain mesin maupun orang secara fisik. Aset utama bukan hanya mesin dan orangnya saja, tapi juga pengetahuan yang dimiliki orang tersebut.Dengan kata lain, paradigma lama yakni manusia hanya dilihat sebagai faktor produksi saja seperti halnya barang modal, tanah dan mesin saat ini sudah harus berubah."Pengetahuan yang dimiliki manusia dapat menjadi aset yang dapat diukur saat ini. Basis ekonomi saat ini juga berubah dari knowledge economy menjadi knowledge yang mengutamakan otak atau brain," kata Miranda.Perbedaan kemampuan seseorang itu pula yang lantas membedakan jenjang karirnya. Dia lantas mencontohkan mengapa seseorang yang sama-sama bekas deputi gubernur bank sentral, namun ternyata ada yang susah mencari kerja. Sementara yang lainnya dengan mudah mendapatkan penawaran kerja, dengan gaji sesuai dengan keinginannya.Menurut Miranda, kemudahan itu bukan disebabkan karena identitas orang tersebut sebagai Deputi Bank Sentral."Tapi dengan identitas dia dengan pengetahuan dan kemampuan yang ada didalamnya adalah harga dari intelektual aset dan intelektual aset itu sangat penting di era ekonomi sekarang ini," pungkas Miranda. (bgs/qom)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads