Sofyan Djalil, Agen Asuransi Dadakan Tanpa Komisi

Sofyan Djalil, Agen Asuransi Dadakan Tanpa Komisi

- detikFinance
Selasa, 15 Jan 2008 16:19 WIB
Sofyan Djalil, Agen Asuransi Dadakan Tanpa Komisi
Jakarta - Menneg BUMN Sofyan Djalil tiba-tiba berbicara layaknya agen asuransi. Namun kali ini, agen asuransi dadakan itu tak minta komisi apapun meski akan menyumbang sekitar 1 juta pelanggan. Kok bisa?

Jangan salah dulu. Sofyan Djalil hanya ingin memperbesar peranan Askes. Untuk itu, seluruh BUMN nantinya akan diminta menggunakan standar asuransi kesehatan dengan standar minimal Askes. Sofyan menilai biaya kesehatan karyawan BUMN yang mencapai Rp 1,2 juta per tahun terlalu mahal.

"Kita tahu banyak BUMN yang menanggung beban masa depan yang begitu besar. Ada BUMN yang melaporkan biaya kesehatannya Rp 1,2 juta per tahun untuk 1 orang. Itu terlalu besar," cetus Sofyan saat melantik direksi dan komisaris 13 BUMN di kantornya, Gedung Garuda, Jakarta, Selasa (15/1/2008).

Jika seluruh pegawai BUMN menggunakan Askes, kata Sofyan, maka berarti BUMN asuransi itu akan mendapatkan setidaknya 1 juta pelanggan baru.

"Coba kalau saya agen asuransi Anda, sudah dapat komisi berapa saya bisa memberikan 1 juta pelanggan. Tapi tenang, saya tidak minta komisi apapun," celetuk Sofyan.

Lebih lanjut Sofyan meminta agar Askes bisa menjadi policy instrument untuk kebijakan kesehatan piblik. Hal ini dikarenakan kebijakan kesehatan banyak yang moral hazardnya tinggi.

"Bahkan dokter-dokter kadang-kadang memberikan obat yang tidak perlu sehingga biaya kesehatannya tinggi, jadi saya minta Askes bisa menjadi policy instrument pada sistem asuransi di Indonesia," imbuhnya.

Pesan untuk Pejabat BUMN


Dalam kesempatan itu, Sofyan juga memberikan sejumlah pesan-pesannya kepada direksi dan komisaris baru BUMN. Ia menjelaskan, dimasa lalu BUMN itu lebih diandalkan MN (milik negara), ketimbang BU (Badan Usaha). Hal itu menyebabkan BUMN tidak bisa bergerak leluasa.

"Intervensi politik juga seringkali terjadi. Tapi sekarang kita lebih menitikberatkan ke BU. MN-nya itu karena mayoritas sahamnya dimiliki negara. Jadi visi saya sekarang adalah membuat BU itu lebih kompetitif, menjadi benchmark, efisien dan memberikan service yang lebih baik. Saya tahu BUMN makin hari makin bagus, tapi masih banyak yang kesulitan," urainya.

"Jadi kalau ada yang diangkat di BUMN yang kesulitan dan bisa mengatasinya, maka pahalanya besar sekali tapi gajinya ya.... ," imbuhnya sambil tertawa.

Namun Sofyan berjanji akan terus memperbaiki remunerasi BUMN. Dengan perbaikan remunerasi, sistem reward and punishment juga akan diterapkan dengan ketat. Misalnya yang terjadi akhir-akhir ini, dengan pemecatan sejumlah direksi BUMN karena dinilai kinerjanya tidak memuaskan.

(qom/ir)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads