Prinsip Gandhi ini rupanya menginspirasi perusahaan iklan di Italia. Perusahaan itu mengangkatnya sebagai ikon iklan telekomuniaksi di televisi, yang intinya mengedepankan kebersamaan satu keluarga tanpa kekerasan.
"Saya beberapa tahun lalu ke Italia saya lihat iklan telekomunikasi, tetapi justru yang dipakai sebagai iklan adalah Gandhi. Ternyata lewat iklan itu mengedepankan prinsip Gandhi no violence, saya sangat tersentuh," ujar Ketua Asosiasi Periklanan Dunia (International Advertising Association/IAA) Indra Abidin dalam acara konferensi pers di gedung Galaktika, Ragunan, Kamis (24/4/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap hari kita dihubungkan oleh banyak hal yang menyangkut alat telekomukasi seperti telepon, ini seperti one family," ujar Indra yang baru dilantik sebagai ketua IAA pada 7 April lalu.
Ia juga menilai kondisi periklanan di Indonesia masih belum banyak yang mengedepankan aspek etika terutama bagi perusahaan pembuat iklan, hanya sedikit saja yang mematuhinya.
"Kalau di Indonesia banyak iklan yang masih merendahkan pesaingnya, ini tidak boleh. Tetapi memang setiap negara punya isu masing-masing kalau di Eropa sangat sensitif dengan isu pornografi, Amerika lebih pada hal perlindungan anak seperti hal obesitas atau kegemukan," ungkap Indra. (hen/ir)











































